Memburu Buah Segar hingga Cinderamata di Pasar Berastagi

Sebagai salah satu daerah tujuan wisata, Kota Berastagi menjadi primadona wisata Sumatera Utara. Keindahan dan kesejukan alamnya membuat para wisatawan lokal dan mancanegara terpesona untuk kembali lagi ke kota ini.

Bagi wisatawan yang berkunjung ke Berastagi, tidak lengkap rasanya bila tidak mampir ke Pasar Berastagi. Ada buah markisa dan jeruk manis serta alpukat mentega yang menjadi ikon buah favorit.
Buah markisa disusun menumpuk dan digantung setinggi jarak mata orang dewasa memandang, sehingga markisa menjadi buah yang paling menarik perhatian.

Sedangkan jeruk dan alpukat disusun di keranjang hingga membentuk gundukan seperti gunung. Ukurannya besar dan segar sehingga tidak pernah luput dari tangan pembeli.
Pasar ini sudah menjadi ikon Kota Berastagi, dan menjadi pusat perdagangan hasil pertanian sejak zaman kolonial Belanda sekitar tahun 1910-an.

Letak Pasar Berastagi berada di jantung kota, sehingga mudah diakses baik oleh para wisatawan sekalipun. Sebagai destinasi wisata belanja, Berastagi menawarkan banyak hasil alamnya.

Buah-buahan dan sayur-sauran di tempat ini sangat bagus, segar dan tak pernah layu, bebas dari busuk dan lubang-lubang bekas jejak ulat. Benar-benar menyegarkan mata dan memuaskan para pembelinya.

Selain marqisa, jeruk dan alpukat juga sayur mayur segar seperti kol, kentang dan wartel dan lain-lain.
Di Pasar Berastagi ini, para wisatawan dan pengunjung lainnya juga bisa menikmati wisata kuliner khas daerah dingin, karena di sini terdapat pedagang jagung dan ubi bakar yang sangat lezat.

Berastagi menjadi kawasan pariwisata yang terkenal di Sumatera Utara. Terletak dibawah kaki gunung dengan cuaca sejuk dan dataran yang cocok untuk bercocok tanam, Berastagi terkenal dengan hasil bumi sayur-sayuran dan buah-buahan.

Selain buah-buahan yang bisa dieksplorasi dari pasar ini ada, baju-baju khas Berastagi, baju dingin, pashmina, dan ulos dengan beragam harga.
"Baju kaus oblong dengan tulisan Berastagi dibandrol Rp 25 ribu hingga Rp 75 ribu tergantung bahan. Ada baju hangat atau baju yang dipakai saat dingin dibanderol sekitar Rp 70 ribuan. Sedangkan ulos lebih mahal dan beragam, tergantung jenis kain berkisar Rp 250 ribu hingga 1 jutaan," jelas Amor Situmorang, pedagang.

Sementara pashmina diobral rata-rata Rp 30 ribuan. Ada juga aksesoris seperti gelang beragam model dan pilihan warna Rp 5 ribu, tas hasil kerajinan tangan penduduk berkisar Rp 100 ribu hingga Rp 500 ribu dan sandal bertuliskan Berastagi Rp 25 ribu hingga Rp 50 ribu," tambahnya.

Di Pasar Berastagi ini, para wisatawan dan pengunjung lainnya juga bisa menikmati wisata kuliner khas daerah dingin, seperti jagung bakar, jagung rebus, kacang rebus dan ubi. Kuliner tersebut cocok menemani jalan-jalan Anda di pasar tradisional yang terbesar di Berastagi ini.

Walaupun pasar tradisional, tata ruang dan tata letak pasar sangat rapi dan teratur. Para pedagang tampak berjajar rapi dengan lapak mereka yang sesuai dengan pengklasifikasian dagangan mereka.

Kondisi pasar yang bersih juga menjadi kelebihan dan daya magnet bagi para pengunjung, tak heran jika mereka yang tidak suka dengan pasar tradisional pun, akan mau dan betah untuk berkeliling melihat-lihat. (tribunmedan)
Bagi di Google Plus

Tentang Perkeleng Ginting

Berita Seputar Karo dan Tanah Karo "Mari bergabung dengan kami " untuk kemajuan bersama.
    Komentar lewat Blogger
    Komentar lewat Facebook

0 comments:

Post a Comment