|
|
|
|
Ditulis Oleh Egia br Sitepu/Antropolog
|
Kata ini pertama kali saya identifikasi pada waktu saya
mengadakan fieldwork di Berastagi. Ketika saya dalam perjalanan menuju sebuah
ladang cabe di perbatasan antara Tanah karo dengan Simalungun. Di sebuah jalan
kecil dengan pertigaan yang ditengahnya ditandai dengan sebatang pohon kayu. Ya!
Pohon kayu yang memang tinggal kayu nya aja, tidak ada daun-daun, bahkan daun
sekalipun. ada sebuah kayu diukir kata-kata "dilarang mengaci". Wah..seketika
itu pula otak saya berputar, mulut saya terbuka, emang ngaci itu apa? Ngapain
sih ngaci? Ngaci apa ngaji? Serombongan didalam kendaraan roda empat tidak ada
ide tentang kata itu. Jadi tinggal otak saya ribut mencari padanan kata dan
referensi siapa yang harus ditanya mengenai kata ini.
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
Ditulis Oleh MU Ginting
|
Hidupkel kuakap essai si ikirimken Alexander ku milista enda, nggambarken proses kehidupan sehari-hari mahasiswa karo dikalangan mahasiswa etnis lainnya, nggambarken kekurangan dan kelebihan kalak Karo ibas pergaulan ras pelajaran. Essai gendek, tapi situhuna mencakup secara mendalam way of thinking dan way of life kalak Karo sekarang (juga masa lalu) dan kelihatannya jauh kedepan masih akan mengikuti gelombang dan getaran yang sama. Ije tersirat piga-piga fundament introversi karo, seperti "kelihatannya mereka pelit banget akan ilmu yang mereka miliki", "terkesan nggak mau bicara", "cenderung tertutup", dsb, tetapi sebaliknya pula "tergolong pintar-pintar" dikelas seperti dalam "teknik perakitan komputer, membuat program aplikasi, bahkan ada yang telah mampu menjadi web design." Ijenda Alexander ngerana soal mahasiswa Karo laki-laki, tapi pasti nge la lit bedana ras mahasiswa wanita pe. Sifat-sifat kekaroan enda ndai lit nge ibas wanita Karo pe, ja nari kin kita si dilaki enda adi la bas diberu Karo nari kang.
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
Ditulis Oleh Steven Amor Tarigan
|
Salam kenal buat teman-teman yang peduli terhadap pariwisata karo, perkenalkan saya adalah alumni dari Poltek MBP, Jurusan Pariwisata Program Studi Hotel Manajemen.
Berbicara tentang dunia pariwisata sangatlah pelik, dunia pariwisata daerah Karo dapat tumbuh apabila didukung oleh segenap masyarakat Karo serta diberdayakan-nya dinas pariwisata Karo yang dipimpin oleh orang yang berkompeten dibidangnya.
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
Ditulis Oleh Eddy Surbakti
|
GEBYAR WISATA Danau Siombak, Kelurahan Paya Pasir, Medan
Marelan yang berlangsung selama dua hari pada 24 dan 25 Februari 2007 digelar
Pemko Medan berlangsung meriah dan dipadati ribuanpengunjung yang datang ke
obyek wisata tersebut. Gebyar wisata denganagenda kegiatan lomba layang-layang
dan memancing itu selain diikuti peserta kota Medan sendiri, juga dimeriahkan
peserta yang datang dari luar provinsi serta peserta yang khusus datang dari
negeri jiran, Malaysia. Kegiatan lomba layangan yang masing-masing peserta
menyampilkan kreasi terbaiknya cukup menarik, karena langit-langit Paya Pasir
saat itu semarak dengan bertaburnya aneka warna dan ragam bentuk layangan yang
dibuat khusus. Namun untuk lomba memancing, panitia ternyata tidak siap, karena
ikan yang ditabur ternyata banyak yang mati sehingga lombanya terpaksa ditunda
hingga awal Maret mendatang.
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
Ditulis Oleh Eddy Surbakti
|
Liberalisasi Pertanian : Menguntungkan
(Siapa) ?
Oleh,
Feryanto William karo-Karo*)
Di akhir penghujung abad ke-20 ini kita menyaksikan
bahwa walaupun dunia telah memasuki abad pengetahuan dan informasi, kita
disadarkan bahwa pertanian kita masih rapuh, dan sangat labil dalam persaingan
di tingkat global. Dimana kekuatan global yang menganut kepada mahzab mekanisme
Pasar, menjadikan Indonesia salah satu negara pengimpor beras terbesar di dunia,
dan ketidakberdayaan produk pertanian kita yang ditolak oleh negara-negara Eropa
dan Amerika akibat ketidaksesuaian mutu produk kita dengan standar mereka,
produk kita kalah bersaing dan kalah pamor dengan produk pertanian dari negara
Thailand, China dan sekarang dengan produk pertanian negara yang baru bangkit
dari perang saudara yakni Vietnam.
|
|
Selengkapnya...
|
| |
|
|
Ditulis Oleh MU Ginting (Swedia)
|
Gubsu Pardede menyesuaikan kegiatannya menurut ajaran Max Weber, bahwa 'dominasi
harus diikuti dengan kekuasaan yang legitim', membentuk badan-badan kekuasaan
bakal sandaran dominasinya ( terakhir dewan pendidikan propsu) atas dasar
'fit and proper test' dominan orang-orang Tapanuli + seklumit sekutu Melayu
(sebagai embel- embel?). Mungkin juga gubsu Pardede sudah memikirkan lebih
panjang, artinya badan ini nanti akan diubah langsung jadi Dewan Pendidikan
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
Ditulis Oleh DON SISCO PERANGIN-ANGIN MANJERANG/ PARAM_SUMATERA@YAHOO.COM
|
Tinggi rendahnya harga suatu komoditi / barang ditentukan oleh permintaan dan
penawaran yang terjadi di Pasar. Semakin tinggi penawaran maka semakin rendah
harga dan semakin tinggi permintaan maka semakin tinggi pula harga barang
tersebut. Penawaran yang tinggi disebabkan oleh banyaknya barang yang menumpuk
dipasar hal ini disebabkan produksi yang besar oleh produsen akan tetapi
permintaan sangat kecil.
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
|
<< Awal < Sebelumnya 1 2 3 4 Berikutnya > Akhir >>
|
| Hasil 13 - 24 dari 42 |