|
Ditulis Oleh A M R I
|
Dalam sebuah cerita dongeng anak-anak, saya pernah membaca kisah kegundahan seorang pengembara. Ceritanya mengisahkan perjalanan seorang pengembara yang mendapatkan ketenangan sesaat, lalu terhenti dan memunculkan kegundahan saat ia masih betah untuk tinggal dan berdiam di sebuah perkampungan pernah dilaluinya.
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
Ditulis Oleh Steven B Amor Tarigan (Sekretaris Umum IMKA-SU)
|
Sistem pendidikan di Tanah karo harus diperhatikan secara serius saat ini oleh pihak-pihak terkait yang mempunyai tugas dan tanggung jawab didalam bidang pendidikan. Bila hal ini dibiarkan maka lambat laun generasi penerus dari tanah karo akan hilang terkerus oleh ketidak pedulian kita terhadap dunia pendidikan.
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
Ditulis Oleh MUG/Milis Komunitakaro
|
Orang Pakpak dikatakan (ada yang mengatakan Batak Pakpak) dan orang Alas dikatakan (ada yang mengatakan) Aceh Alas. Tapi dari segi bahasa diatas, bagi orang karo (mungkin hanya bagi orang Karo) maka sepatutnyalah orang Pakpak disebut Karo Pakpak dan Alas jadi Karo Alas, bukan Batak Pakpak atau Aceh Alas.
Terlepas dari keyakinan, perasaan, kepentingan politik atau kepentingan pribadi, memang sungguh menarik untuk meneliti ’kecocokan’ Batak Pakak dan Aceh Alas dan atau kemungkinan menggantinya dengan yang lebih cocok, Karo Pakpak dan Karo Alas.
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
Ditulis Oleh Jaiman Saragih
|
( Asal Usul Suku Bangsa & Bahasa Batak Simalungun/Toba )
Membaca tulisan sebagai tanggapan dari Sdr Ir Gunawan Napitupulu atas tulisan
Sdr. Pdt. Juandaha Raya Purba Dasuha STh, khususnya tentang kesamaan Bahasa Etnis Simalungun dan Bahasa Batak Toba, yang dimuat dalam Koran SIB tanggal 19 Februari 2006, kami menyampaikan koreksi dan perbaikan sebagai berikut:
–––Koreksi atas Bahasa Etnis Simalungun dalam daftar tabel daftar kata-kata pokok Bahasa Etnis Simalungun dan Bahasa Batak Toba yang ditulis (terlampir), adalah sebagai berikut ;
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
Ditulis Oleh Drs H Syamsul Bahri Ritonga, MSi
|
Kalau kita berbicara dengan berbagai ragam bahasa, bahasa Indonesia, bahasa
daerah, bahasa luar, bahkan dengan singkatan dan istilah-istilah lain disebut bahasa pasaran atau bahasa gaul. Istilah-istilah bahasa judul di atas yang terdiri dari Bahasa Tionghoa/Mandarin (Go Pek dan Go Ceng) dan Go-yah (Bahasa Indonesia) serta Go-lap bahasa daerah Tapanuli. Istilah tersebut merupakan beberapa contoh kesemrawutan bahasa kita, yang seolah terkesan mengingatkan kita terhadap pembicaraan anak-anak di bawah umur, apalagi sekarang ini banyak ragam dan model percakapan yang tidak jelas, kata, dan bahasa apa yang dipergunakan.
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
Ditulis Oleh WASPADA Online
|
Tentunya kita prihatin melihat kasus-kasus yang terjadi di Papua, khususnya dalam kasus penembakan sejumlah warga sipil Papua dengan peluru tajam yang berlanjut dengan maraknya aksi demo di kawasan paling timur Indonesia itu hingga merebak ke Jakarta.
Kalau mantan Ketua MPR Amien Rais menegaskan PT Freeport Indonesia harus ditutup dahulu seiring banyaknya tuntutan dari warga Papua untuk menghentikan operasi perusahaan tambang tersebut pasca bentrok antara aparat keamanan perusahaan dengan masyarakat setempat, hal itu kita nilai sesuatu yang tepat. Ditutup sementara untuk menyelesaikan beragam masalah yang terpendam bagaikan sebuah bom waktu yang siap meledak kapan saja. Solusinya tidak boleh setengah-setengah tapi harus tegas!
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
Ditulis Oleh Aritonang
|
Cara Orang Batak dan Tionghoa Mendidik Anak Bekerja dan bersekolah.
Dua hal itu melekat pada masa kecil Jan S Aritonang.
Sejak duduk di kelas IV SD, Aritonang telah belajar mencari uang. Di depan
rumah kakeknya di Tanjung Morawa, Sumatera Utara, ia sering menggelar
dagangan dari kebun kakeknya. Seminggu sekali, pukul 03.00 dini hari, ia
ikut menjual hasil bumi ke Pasar. Saat duduk di SMP, Aritonang pernah
bekerja sebagai tukang sapu. Ia pernah bekerja pedagang asongan, kernet
mobil angkutan, sampai penarik becak. Akan tetapi, satu hal tidak pernah
ditinggalkannya: bersekolah.
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
Ditulis Oleh Robert Sinuhaji SE /SIB
|
Kenaikan harga BBM yang mencapai rata-rata seratus persen telah memicu
tingkat inflasi tinggi. Harga barang dan jasa berebut naik. Khususnya, disektor pertanian, harga benih, harga pupuk impor, dan harga pestisida ikut melambung. Harga pupuk subsidi memang tidak mengalami perubahan, tapi kenaikan biaya transportasi harus diperhitungkan sehingga untuk memperolehnya harus mengeluarkan dana lebih besar. Dengan kata lain, biaya operasional petani ikut terdongkrak. Namun, secara empiris saya mengamati, harga sayur-mayur justru turun. Di Pasar tradisional Saribudolok (Simalungun) misalnya, kecuali harga cabai relatif stabil (diduga persediaan kurang sebab banyak tanaman rusak karena virus) hampir semua harga sayur-mayur di tingkat petani mengalami penurunan. Hingga awal Pebruari 2006, tercatat harga masing-masing per kilogram: kol Rp 300, tomat Rp 1.000, dan kentang Rp 1000. Kenapa demikian? Apakah karena permintaan(demand) terhadap sayur-mayur berkurang akibat kenaikan harga BBM yang sangat membebani kehidupan masyarakat?
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
Ditulis Oleh SG/Komunitaskaro
|
Belum lama ini saya tonton kembali sebuah film Itali lama, berjudul "Padre Padrone" (My Father, My Master - produksi thn 1977) - film itu pertama kali saya tonton sekitar tahun 1998 di salah satu tv Inggris - film yg baik selalu nikmat ditonton utk kedua atau ketiga kalinya.
Film itu berkisah tentang hubungan ayah yang keras, otoriter, dengan puteranya, Gavino. Adegan pembuka, sang ayah digambarkan sedang mendatangi sekolah Gavino kecil yg duduk di kelas 1 atau 2 SD. Sang ayah minta kepada ibu guru bhw anaknya harus berhenti sekolah, utk membantunya mengembalakan domba di gunung (Sardinia). Kalau tidak, sebagai keluarga miskin, hidup mereka akan sangat menderita. (Anak ikut bekerja utk menunjang ekonomi keluarga - masih berlaku dlm masyarakat kita sampai sekarang).
|
|
Selengkapnya...
|
|
|