Sejarah
DATUK BADIUZZAMAN SURBAKTI MEMIMPIN PERANG SUNGGAL DILANDASI NASIONALISME | DATUK BADIUZZAMAN SURBAKTI MEMIMPIN PERANG SUNGGAL DILANDASI NASIONALISME |
|
|
|
| Ditulis Oleh Eddy Surbakti | |||||||
![]() Medan. Berita Antara,18 April 2006 - Guru Perang Sunggal yang dipimpin oleh Datuk Badiuzzaman adalah perang rakyat, katanya di Medan, baru-baru ini pada "Seminar Nasional Datuk Badiuzzaman Sri Indera Pahlawan Surabakti Pejuang Menentang Penjajahan Belanda 1872-1895." Menurut dia, dalam menjalankan perang dengan Belanda, Datuk
Badiuzzaman menjalin kerjasama yang didasarkan pada hubungan kekerabatan
sebagaimana lazim dalam masyarakat Hubungan dengan dasar tersebut menciptakan kerjasama atau solidaritas lintas budaya, termasuk lintas agama atau kepercayaan. Kemudian ada pula dasar kesamaan iman yang memungkinkan jalinan kerjasama dengan Aceh, misalnya, selain daripada adanya kesamaan kepentingan, yaitu sama-sama melindungi negeri dan bangsanya dari ekspansi kekuasaan penjajahan. Ia mengatakan, perang kemudian pecah selain daripada faktor ekspansi kekuasaan dan teritorial penjajahan juga karena penafisiran tradisi budaya dan budaya politik Kedatukan Sunggal mengenai wilayah dan kedaulatan oleh Belanda dan Sultan Deli. Perang yang dipimpin oleh Datuk Badiuzzaman atau Perang Sunggal memang berakhir pada tahun 1895. Namun usainya perang bukan berarti perlawanan ikut berakhir sebab dengan berbagai cara dan tindakan rakyat meneruskan perlawanan menentang kolonisasi dan ekspansi perkebunan. Gangguan terhadap pemukiman para koeli dan pembakaran bangsal pengeringan tembakau adalah di antara cara dan tindakan perlawanan selanjutnya. Antara perang yang dipimpin oleh Datuk Badiuzzaman dan perlawanan rakyat sesudahnya dapat ditemukan benang merah penghubungnya. Lebih lanjut ia menjelaskan, sudah sejak perang pecah terjadi kerjasama dan saling dukung antara Sunggal dan daerah sekitarnya, sebagaimana juga dengan pemimpin rakyat di Tanah Karo. Kerjasama yang dilandasi oleh semangat atau ideologi yang sama itu, yaitu dengan anti penjajahan dan anti penjualan wilayah Tanah Air, tidak hilang atau padam meskipun perang telah usai dan Datuk Badiuzzaman dan para pemimpin yang lain ditangkap dan dibuang. Benang merahnya sebenarnya dapat dilihat sampai ke dalam
Gerakan Perang Sunggal yang dipimpin oleh Datuk Badiuzzaman adalah
perang rakyat yang mampu mengerahkan kekuatan rakyat Kedatukan Sunggal dan
memperoleh bantuan dari para keluarga yang berada di luar Kedatukan Sunggal,
yaitu dari Karo, dan dari kalangan yang secita-cita yakni Aceh, tambahnya.
Powered by !JoomlaComment 3.22
3.22 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
|||||||
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
| Profil |
| Tokoh Karo |
| Tokoh Dunia |
| Tokoh Nasional |
| Opini |
| H M K I |
| Wikipedia |
| Sora Mido |
| Sora Sirulo |
| Joey Bangun |
| Tari Karo |
| Lagu Karo |
| Film/Sinema |
| Artis/Seniman Karo |
| Berita |