Wisata
Tongging Perlu “Bersolek” Agar Tidak Ketinggalan Dengan Objek Wisata Lain di Karo | Tongging Perlu “Bersolek” Agar Tidak Ketinggalan Dengan Objek Wisata Lain di Karo |
|
|
|
| Ditulis Oleh Eddy Surbakti | |||||||
|
Laporan : Sonry Purba
Di sisi kiri jalan berliku menuju Desa Tongging, terdapat sebuah bukit yang disebut masyarakat dengan Bukit Sipiso Piso. Kawasan ini pernah dijadikan sebagai tempat “launching” paragliding (terbang layang) bagi wisatawan mancanegara yang menyenangi atraksi wisata dirgantara. Sementara bila menoleh ke kanan, wisatawan yang mengendarai kendaraan menelusuri jalan menurun dan berliku akan disuguhi keindahan air terjun Sipiso Piso yang jatuh dari ketinggian 500 meter yang menjadi salah satu dari dua air terjun yang ada di Desa Tongging yang bermuara ke Danau Toba. Begitu pula bila memandang ke depan alam menyuguhkan pemandangan Danau Toba dengan hamparan air berwarna biru langit. Tongging dengan keindahan alamnya apalagi menelusuri jalan sepanjang 5 Km sebelum tiba di bibir pantai Desa Tongging akan mengundang decak kagum. Namun keindahan alam yang dapat mendongkrak dunia usaha dibidang industri parawisata dan meningkatkan PAD, apa bila tidak “disolek” (dibenahi, red) secara serius dan tidak ditangani secara profesional akan ketinggalan dengan objek wisata lain di Tanah Karo maupun daerah lainnya yang ada di Sumut, dan tentu jumlah kunjungan wisatawan bakal dapat menurun. Malah para pengusaha hotel di daerah itu mungkin akan banting setir ke dunia usaha lainnya apabila kunjungan wisatawan ke daerah tersebut menurun dan mempengaruhi kesejahteraan warga setempat. Padahal berdasarkan data yang diperoleh SIB dari Dinas Pariwisata Karo jumlah kunjungan wisatawan dan hasil PAD yang diperoleh di objek wisata itu menunjukkan peningkatan. Pada tahun 2004 jumlah kunjungan wisatawan ke daerah itu 57.700 orang dengan retribusi PAD yang dihasilkan Rp 53 juta. Tahun 2005 jumlah kunjungan wisatawan 58.960 orang dengan PAD Rp 53.600.000 dan pada tahun 2006 jumlah wisatawan 88.178 orang dengan PAD yang dihasilkan Rp 80.161.5000. Dari hal tersebut, Pemkab Karo harus membenahi segala infrastruktur termasuk sarana dan prasarana yang memadai seperti jalan yang mulus, penerangan jalan, pertamanan, sehingga menambah daya tarik. Salah seorang pengusaha hotel, Dikson Pelawi (42) warga Berastagi kepada SIB mengatakan pertumbuhan industri pariwisata di Desa Tongging sudah mulai menampakkan jati diri sebagai daerah wisata yang berpotensi setelah kota Berastagi sejak tahun 1997. Hal ini dapat dilihat dengan kehadiran sejumlah wisatawan mancanegara dan diikuti pula kedatangan pengusaha lokal yang menanamkan investasinya dibidang penginapan dan pengoperasian kapal yang terbuat dari kayu untuk melayani route Tongging ke Pulau Samosir. Menurutnya, bila dibandingkan dengan Parapat di Kabupaten Simalungun dan Samosir, pertumbuhan industri pariwisata Desa Tongging di Kabupaten Karo masih tertinggal jauh terutama dalam mengelola potensi sumber daya alamnya. Potensi alam yang belum dikelola sampai saat ini termasuk air terjun Sidompak dan lokasi paragliding yang sampai saat ini belum memiliki tempat pendaratan. Begitu pula dengan jalan pedesaan yang menghubungkan Desa Tongging ke desa sekitarnya yang berjarak sekitar 3 km ke Desa Sikodon Kodon dan Sibolangit, selain jalannya yang sempit dan kondisinya juga sudah rusak dan banyak ditumbuhi semak belukar. Dibandingkan dengan pemerintahan sebelumnya, meskipun tidak terlalu banyak ada perbaikan fasilitas pariwisata yang dilakukannya, terutama menyangkut infrastruktur darat, danau dan air bersih untuk masyarakat Tongging, namun sekarang infrastruktur yang pernah dibangun mulai rusak dan perlu diperbaiki, katanya. Dia juga menceritakan bila jalan dari Desa Tongging menuju Silalahi dan Sibolangit serta infrastruktur air bersih diperbaiki, ia yakin jumlah pengunjung ke desa Tongging akan semakin meningkat dan menambah PAD pula, karena setiap wisatawan yang ingin menikmati alam Tongging wajib membayar retribusi pariwisata dan parkir. B. Sinaga (45) warga setempat menuturkan, selain kondisi jalan yang saat ini mengalami kerusakan lampu jalan di lokasi objek wisata ini juga nyaris tidak ada, sehingga bila malam hari wisatawan terpaksa harus berjalan dari penginapannya menembus kegelapan malam bila ingin berbaur dengan masyarakat desa yang terkenal dengan keramah tamahan budayanya. Dengan kondisi yang ada saat ini, penduduk Desa Tongging masih banyak yang merasa “pesimis” kalau pariwisata Kabupaten Karo bisa melangkah, apalagi bisa sejajar dengan Tuktuk di Pulau Samosir. Kadis Pariwisata Karo, Dinasti Sitepu kepada SIB di ruang kerjanya, Selasa (25/9) mengatakan ada beberapa infrastruktur yang bakal diperbaiki tahun ini di antaranya pembangunan jalan setapak menuju danau dan perbaikan jalan menuju air terjun Sipiso-piso. Selain perbaikan infrastruktur jalan setapak, Pemkab Karo juga akan membangun taman bunga Bogenvile yang diharapkan akan semakin memperindah kawasan Tongging. Sedangkan perbaikan infrastruktur jalan pedesaan yang rusak merupakan tugas Dinas PU kabupaten Karo, katanya. Meskipun situasi desa Tongging masih membutuhkan perbaikan fasilitas pariwisata dan infrastruktur namun desa yang terletak di pinggir danau Toba ini ini telah mampu memberikan kontribusi pariwisata ke Kabupaten Karo sebesar Rp 80 pada tahun 2006. Menurutnya, tahun depan pihaknya menargetkan hingga Rp 130 juta/tahun. Target ini dianggapnya bakal tercapai karena hingga bulan Agustus saja pihaknya sudah berhasil mengumpulkan PAD hingga Rp 70 juta. Begitulah potret salah satu desa potensial pariwisata yang ada di Tanah Karo saat ini. Meskipun sudah memberi kontribusi kepada daerah namun desa yang terletak di bibir pantai Danau Toba belum mendapatkan apa yang dibutuhkan masyarakatnya dalam menunjang dunia usaha yang ada. Di sinilah peran dari Pemkab Karo untuk memperindah Panorama Tongging tersebut salah satunya harus dibangun infrastruktur sarana dan pra sarana lainnya seperti jalan yang mulus, penerangan jalan, pertamanan, serta membuat fasilitas pemandangan sehingga memperindah objek wisata di Tongging termasuk objek wisata lain dan para wisatawan merasa betah untuk melancong ke kawasan itu. Dengan memperbaiki sarana itu, wisatawan ke daerah itu akan merasa betah untuk berkunjung ke kawasan itu. Di sisi lain jumlah wisatawan yang meningkat dapat meningkatkan kesejahteraan warga setempat. (h)
Powered by !JoomlaComment 3.22
3.22 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
|||||||
| Berikutnya > |
|---|
| Profil |
| Tokoh Karo |
| Tokoh Dunia |
| Tokoh Nasional |
| Opini |
| H M K I |
| Wikipedia |
| Sora Mido |
| Sora Sirulo |
| Joey Bangun |
| Tari Karo |
| Lagu Karo |
| Film/Sinema |
| Artis/Seniman Karo |
| Berita |