Opini
Identitas Karo di Eropah | Identitas Karo di Eropah |
|
|
|
| Ditulis Oleh MU GINTING | |||||||
|
Beberapa kali saya membaca atau pernah juga mendengar dari beberapa psikoterapist memaparkan soal kematengan atau kedewasaan seorang manusia. Ada yang berkesan dan ada juga yang sangat berkesan sangat dalam Hari Minggu 9 Des 07 saya menyaksikan Tari Pisosurit yang dipentaskan oleh grup penari Perkumpulan Indonesia di Goteborg Swedia pada pesta Perayaan Natal 2007 Perkumpulan itu. Apalah tari pisosurit bagi orang Karo, sudah biasa melihat atau mendengar, dan tari yang boleh dikatakan bukan baru juga. Bagi saya sebagai orang Karo dan satu-satunya pula orang Karo yang menyaksikan pertunjukan itu, jadi banyak pilihan bagaimana saya menempatkan diri sebagai penonton diantara hadirin dan penonton lainnya yang jumlahnya cukup banyak memenuhi seluruh ruangan pesta. Ada persamaan saya dengan yang lain-lain, sama-sama merasa gembira menikmati lagu, tari dan terutama pakaian Tari Pisosurit adalah salah satu pencerminan budaya Karo, menunjukkan identitas Karo dari sudut budaya/kesenian. Identitas mempunyai kekuatan, the power of identity, bisa disalurkan untuk membantu perkembangan diri, Karo maupun masyarakat, setidaknya dalam rangka pengetahuan umum orang Indonesia tentang budaya banyak suku negeri kita. Ketika seorang teman mengatakan tari itu dari Kalimantan, ada teman lain cepat bereaksi mengatakan yang sebenarnya, tari Pisosurit adalah tari Karo dari Sumatra. Ada lagi yang mengatakan tari Batak Karo, yang juga cepat diperbaiki oleh yang lain (bukan Karo) bahwa tari itu adalah tari orang Karo bukan Batak atau Batak Karo dan bahwa Batak tidak sama dengan Karo. Saya merasakan hasil jerih payah orang-orang Karo selama ini di Eropah sudah menunjukkan hasil, kekuatan identitas Karo terlihat ada, berdiri sendiri dan tidak jadi bayangan kekuatan identitas Batak seperti ratusan tahun pengalaman yang dipaksakan oleh pemerintah kolonial (100 tahun Karo sinik). Dalam menyksikan tari Pisosurit diatas salah satu hadirin yang turut menikmati dan bangga adalah Duta Besar RI di Swedia Ibu Linggawati Hakim, spesial datang dari Stockholm bersama rombongannya. Sama dengan hadirin lainnya, Bu Duta melihat tari itu asyik sekali dan juga dapat penjelasan asal-usul tari itu. Dalam pidatonya juga mengatakan bagaimana pentingnya menjaga kelestarian budaya-budaya etnis sebagai jembatan keakraban bagi multi-etnis Indonesia dalam perkembangannya kedepan. Dalam pembicaraan Ketua Perkumpulan dengan Ibu Duta Besar, telah disepakati bahwa Perwakilan Indonesia menyanggupi memberikan sumbangan atau membelikan perlengkapan tari (pakaian adat Karo) dari Indonesia dengan bantuan Deplu di Jakarta. Bagi teman-teman milis yang bisa memberikan informasi dimana bisa dibeli pakaian tari adat Karo bersama harga belinya, sudilah kiranya memberitahukan, atau bisa langsung berhubungan dengan Deplu soal pakaian adat Karo di Swedia, atas persetujuan Perkumpulan Indonesia di Goteborg dengan Duta Besar RI di Swedia Ibu Linggawati Hakim. Perkumpulan Indonesia di Goteborg mengucapkan terimakasih sebelumnya. MUG Perkumpulan Indonesia di Goteborg
Powered by !JoomlaComment 3.22
3.22 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
|||||||
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
| Profil |
| Tokoh Karo |
| Tokoh Dunia |
| Tokoh Nasional |
| Opini |
| H M K I |
| Wikipedia |
| Sora Mido |
| Sora Sirulo |
| Joey Bangun |
| Tari Karo |
| Lagu Karo |
| Film/Sinema |
| Artis/Seniman Karo |
| Berita |