Berita
Terbaru
Kematin Bayi di Karo Tinggi | Kematin Bayi di Karo Tinggi |
|
|
|
| Ditulis Oleh Alexander Firdaust | |||||||
|
Tingginya tingkat kematian bayi meninggal dunia saat lahir disebabkan berat bayi lahir rendah (BBLR) yakni sebesar 36%. Selain itu, penyebab kedua terbesar karena gangguan asfiksia (gangguan saluran pernapasan) sebanyak 27,5%. Menurut fasilitator dari Health Service Program (HSP) Jakarta Koesminarti, kondisi ini bisa dicegah bila tersedia bidan terlatih yang tersebar hingga ke desa-desa. Dia menambahkan,berdasarkan penelitian ”Intervensi Berbasis Bukti”dari Departemen Kesehatan, ditemukan bahwa bidan terlatih dapat mencegah 30% kematian bayi baru lahir karena asfiksia dan 90% kematian karena infeksi. "Berdasarkan data dari Tim Perencanaan Melalui Pendekatan Tim (PMPT), dari 392 bidan yang ada di Tanah Karo, baru 32 orang yang sudah mendapatkan pelatihan manajemen asfiksia dan 40 orang yang telah memperoleh pelatihan manajemen BBLR," ungkap Koesminarti saat Lokakarya Kesehatan Ibu, Bayi Baru Lahir, dan Anak (KIBBLA) di Berastagi, akhir pekan Menurut dia, minimnya jumlah bidan yang sudah terlatih ini karena selama ini dinas kesehatan (dinkes) kabupaten hanya mengandalkan jatah jumlah peserta pelatihan yang diberikan oleh provinsi, yang biasanya berkisar hanya 1–2 peserta per tahun. Sekadar diketahui, asfiksia adalah suatu keadaan bayi baru lahir yang mengalami kegagalan bernapas secara spontan dan teratur segera setelah lahir. Kondisi ini terjadi karena gangguan pertukaran gas transport O2 dari ibu ke janin sehingga terdapat ganguan dalam persediaan O2 dan dalam menghilangkan CO2. Rendahnya bidan profesional di Tanah Karo ini juga dikatakan oleh Elfenda Ananda dari Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra). Menurut dia, anggaran untuk Dinkes Pemkab Karo cukup tinggi.Misalnya untuk tahun ini,dari seluruh total APBD Karo, sekitar 10% dialokasikan untuk anggaran kesehatan. ”Namun,seperti yang kita ketahui sendiri belum ada yang secara khusus dialokasikan Sebab, masih banyaknya jumlah bidan Kabupaten Karo yang belum dilatih agar lebih terampil.sudah saatnya bagi Kabupaten Karo untuk tidak lagi bergantung pada alokasi anggaran dari propinsi,”tandas Elfenda. Berdasarkan data dari Dinkes Pemkab Karo, sepanjang 2007 jumlah kematian bayi saat dilahirkan mencapai 107 kasus. Jumlah tersebut, bisa lebih tinggi karena banyak kasus kematian balita yang belum teridentifikasi dengan baik. Selain itu, pencatatan dan pelaporan yang belum terkoordinasi dari unit pelayanan kesehatan swasta. Ketua Komisi B DPRD Karo Joy Harlin Sinuhaji menyebutkan, pihaknya mendukung penuh pelatihan bagi bidan di Tanah Karo untuk meningkatkan program kesehatan ibu dan bayi. "Sepanjang kegiatan tersebut untuk kepentingan rakyat, DPRD Karo sangat mendukung. Dan ke depannya, kita akan mendesak Pemkab Karo untuk melakukan pelatihan kepada bidan agar tenaga medis di Tanah Karo semakin tinggi kualitasnya," tandasnya. Politikus asal Partai Patriot Pancasila ini menambahkan, dengan tingginya tingkat kematian bayi saat dilahirkan tersebut, tidak ada salahnya jika ke depannya disediakan alokasi khusus yang dananya disisihkan dari APBD tahun anggaran berikutnya. (makmur Sumber: www.seputar-indonesia.com , 21 April 2008
Powered by !JoomlaComment 3.22
3.22 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
|||||||
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
| Profil |
| Tokoh Karo |
| Tokoh Dunia |
| Tokoh Nasional |
| Opini |
| H M K I |
| Wikipedia |
| Sora Mido |
| Sora Sirulo |
| Joey Bangun |
| Tari Karo |
| Lagu Karo |
| Film/Sinema |
| Artis/Seniman Karo |
| Berita |