Tanah Karo Online [ Tanahkaro!Foundation ]

Saturday
May 17th
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Berita Terbaru arrow Sekilas arrow Keberadaan Rumah "Siwaluh Jabu" Runtuh dan Terlantar
Keberadaan Rumah "Siwaluh Jabu" Runtuh dan Terlantar PDF Cetak E-mail
Penilaian Pengguna: / 0
BurukTerbaik 
Ditulis Oleh SIB/Drs Alexander Hr Ginting   
Selain tempat-tempat Daerah Tujuan Wisata (DTW) karo minim perawatan dan pembangunannya, pemeliharaan rumah-rumah adat Batak Karo “Siwaluh jabu”. Saat ini, berdasarkan pantauan SIB, sekitar 15 rumah adat Batak Karo “siwaluh jabu” keadaannya sangat memperihatinkan. Tidak terpelihara, bahkan beberapa diantaranya sampai ambruk dan terlantar. Padahal, rumah adat ini merupakan salah satu objek wisata yang banyak dikunjungi wisatawan asing. Rumah adat yang sarat dengan nilai-nilai sejarah leluhur dan budaya daerah ini seharusnya dipelihara. Jika kurang diperhatikan, atau dianggap spele, budaya ini bisa hilang dan tergusur dengan masuknya budaya modern dan canggih. Sehingga, secara evolusi bisa menenggelamkam sejarah dan budaya Karo dari tengah-tengah warna-warni budaya berbagai suku bangsa di Indonesia. Seperti pengakuan beberapa turis asing, Griise Patrick (41) asal Oakland, negara bagian California dan Claesen (46) asal Wilwaukee, Negara Bagian Wisconsisn, Amerika, kepada wartawan SIB, Minggu (2/4) ketika mengunjungi desa Lingga Kecamatan Simpang Empat, menyatakan sangat prihatin melihat kondisi rumah adat yang tidak dirawat. Di sekeliling rumah berukuran 9x10 meter, dibangun tanpa menggunakan pasak paku, tiang penyangga dililit tumbuhan liar dan jorok. Bahkan pengakuan beberapa warga setempat, oleh penghuni asli, “rumah Siwaluh Jabu” menyewakannya kepada pendatang. Selain bagian luar rumah adat yang umumnya cukup memprihatinkan , keadaan bagian dalam juga sangat menyedihkan. Peralatan memasak dan perangkat dapur lainnya bisa dibilang semi modern. Tiada lagi terlihat keunikan sarana-prasarana masak para leluhur masa lalu dan upaya melestarikannya. Turis datang ke rumah adat tanpa bisa menyaksikan peninggalan sejarah yang diakui turis “kangen” menyaksikannya. Desa Lingga, salah satu desa budaya di Karo yang juga daerah utama tujuan wisata masih menyisakan 7 bangunan rumah “Siwaluh Jabu”. Rumah “Siwaluh Jabu” disini tidak lagi dihuni 8 kepala keluarga (KK). Rata-rata diisi 2-3 KK saja. Dua simbol rumah adat diantaranya, pada tahun 2005 mendapat biaya renovasi sebesar Rp 150 juta untuk mengganti ijuk (atap). Dua tahun terakhir, desa Lingga tak lagi dijadikan sasaran utama kunjungan turis ke Kabupaten Karo. Dalam sepekan tercatat hanya 2-4 turis yang datang kesini masuk tanpa dikutip bayaran lagi. Ambruk Hal yang sama juga terjadi di desa budaya Karo di Sempajaya Kecamatan Berastagi. Beberapa tahun lalu, satu dari enam rumah budaya yang ada ambruk dan saat ini telah dibangun bangunan rumah warga dengan model bernuansa modern dan tanpa meninggalkan bekas rumah adat “Siwaluh Jabu”. Menyusul lagi ambrukan rumah adat lainnya. Ini terjadi akhir tahun lalu. Kondisinya kini, bangunan rumah adat ini nyaris rata dengan tanah. Bahkan nyaris menimpa rumah warga di sampingnya. Padahal, lokasi wisata rumah adat desa ini juga sering dikunjungi wisatawan manca negara. Sampai kini, Rabu (5/4) kondisinya semakin memprihatinkan. Bahkan menjadi pemandangan kurang sedap bagi warga lain yang datang ke desa ini. Belum diperbaiki oleh Dinas Pariwisata, Budaya dan Seni Pemkab Karo. Umumnya wisatawan yang datang ke DTW ini terkagum-kagum setelah menyaksikan keunikan konstruksi rumah yang dibangun pada abad 19. Ada juga yang mencibir ketika melihat bangunan runtuh tidak diperbaiki. “Dari kondisi ini, terbukti bahwa, pejabat bupati di daerah ini sangat tidak menghargai nilai sejarah mengandung nilai seni tinggi”, ujar Mithailal Ram Sanjivan (40) wisatawan asal Ahmababad, negara bagian Gujarat, India Barat. Menurut Patrick dan Claesen, dua back packer (turis individu), di Chatmandu (Nepal) rumah adat seperti “Siwaluh Jabu” ini banyak diminati oleh pelancong, orang-orang muda, khususnya yang menamakan dirinya young flowers generation, terkenal sebagai hippies 20 tahun silam. Di Tanah Toraja (Sulawesi), Gianjar dan di Ubud (bali) banyak turis menjadikan rumah adat sebagai rumah “kedua” di pelancongan. Di Simalungun tidak demikian halnya, namun tetap dilestrarikan, jelas Patrick kurang bersemangat. Lebih ironis lagi, bangunan rumah adat yang dijadikan museum yang dibangun sekitar 18 tahun silam bersebelahan dengan bangunan Kodim 0205 Tanah Karo di jalan raya Berastagi-Kabanjahe, keadaannya kini parah sekali. Bangunannya tak terurus/rusak, tapi tidak diperbaiki. Pemda Karo saat ini tak lagi memiliki gedung museum yang layak dikunjungi. Seolah dijadikan tontonan tak menarik bagi ribuan mata yang melintas di setiap hari. Kapan pemerintah setempat memprioritaskan pembangunan pariwisata Karo ke depan sebagai salah satu sumber pendapatan PAD-nya. Setiap pergantian bupati, berganti pula program pembangunannya. Sehingga kemungkinan warga Karo yang 85 persen petani ini menjalani hidup “Tertatap lau meciho terinem lau megembur” (terlihat air jernih terminum air keruh-red). Kadis Dinas Pariwisata Karo Drs AM Perangin-angin yang hendak dikonfirmasi wartawan, Rabu (5/4) di kantornya, Berastagi, tidak berhasil. Menurut stafnya, AM mengikuti rapat Musrenbang RPJM di Kabanjahe.
Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.22 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
< Sebelumnya   Berikutnya >
Forum Terbaru
Latest Forum Posts
TopicsByCategoryDate
Hotel di KabanjaherobbyJALAN-JALAN09-03-08 08:33
mejuah-juahMA_171_NG[[-MUDA-MUDI KARO-]] Jawa Barat07-10-07 16:52
Re:cari beru karo purba ajadhillo kembarenCARI TEMAN LAMA/SEKOLAH/SEKAMPUNG/PACAR18-09-07 19:00
mo nanya nih.....yuliusFORUM MERGASLIMA15-09-07 10:34
Permintaan Maaf..adminIKATAN MAHASISWA KARO/IMKA08-09-07 07:08
Advertisement