Tanah Karo Online [ Tanahkaro!Foundation ]

Saturday
May 17th
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Berita Terbaru arrow Kolomnis arrow Joey Bangun arrow Kalau saja ada Film Karo
Kalau saja ada Film Karo PDF Cetak E-mail
Penilaian Pengguna: / 0
BurukTerbaik 
Ditulis Oleh Joey Bangun   
Berawal cita-cita dari talenta yang dimiliki tercetuslah keinginan untuk berbuat sesuatu untuk karo tercinta. Salah satunya adalah film. Kenapa film? Karena film adalah visualisasi yang bisa diterima berbagai kalangan tanpa memandang apapun latar belakangnya. Terlebih film adalah bentuk kebebasan berekspresi dari sineas dalam menemukan idealisme impiannya. Beberapa minggu lalu saya dikagetkan dengan suguhan drama tradisional di TVRI nasional yang mengangkat tentang cerita Perlanja sira. Sebagai sineas saya memandang film itu mempunyai banyak kelemahan dari segi akting dan visualisasi sinematografinya. Tapi saya mengacungi jempol untuk spirit dan kecerdasan para pekerja maupun pemain dalam mengaktualisasi bagaimana menyuguhkan suatu realita Karo dan cocok untuk dikonsumsi oleh orang Karo. Kesimpulannya film itu memang cocok untuk dikonsumsi kalangan Karo tapi tidak dalam lingkup nasional. Untuk itu sebagai pekerja film yang berdomisili di ibukota saya tergelitik untuk memberikan sesuatu untuk Karo. Tercetuslah keinginan untuk membuat film Karo. Tapi film Karo yang saya maksud disini bukan hanya film yang dikonsumsi oleh orang Karo saja tapi juga oleh semua orang di Indonesia. Semuanya berawal dari semakin maraknya dunia perfilman Indonesia. Satu sampai dua film dalam negeri bisa hadir setiap bulannya di bioskop-bioskop tanah air. Film garapan Garin Nugroho hadir dengan nuansa budaya. Garin hadir dengan budaya Jawa dan Irian dibeberapa filmnya. Nia Dinata hadir dengan budaya Tionghoa dalam film Ca Bau Kan. Cinta Silver yang sedang hangat diputar di bioskop mengangkat budaya bali sebagai settingnya. Tapi budaya Karo? Karo memiliki banyak sutradara. Sebutlah nama Terkelin Tarigan, Josep Gintings, Herri Ketaren, Henry Bangun dan saya Joey Bangun. Belum lagi nama-nama yang menghiasi kru film seperti kameramen Fes Tarigan dan Trasta sembiring. Tapi belum pernah terjadi pertemuan para seniman ini untuk membahas suatu ide untuk membuat film Karo berkapasitas nasional. Terus terang saya sudah menyiapkan beberapa skenario yang siap diangkat ke layar lebar. Sebagai contoh cerita ‘Sibayak’ (dimuat bersambung di Soramido tentang percintaan seorang pemuda Karo dan wanita Belanda dengan segala kegetirannya), ‘Musuh berngi’ (realita perjuangan Karo dengan segala polemik cinta dan kehormatan) dan ‘The King of Haru’ (riwayat dan kebesaran kerajaan Haru dengan cikal bakal terjadinya suku Karo). Semuanya mengangkat tentang realita sejarah Karo tempo dulu. Kenapa tempo dulu? Saya seorang sutradara beraliran flashback. Sangat menyukai sejarah dengan segala realitanya. Saya selalu menyutradarai dan menciptakan cerita yang beraliran flashback dari sejak saya berkesenian. Kalau di Hollywood aliran ini dibawa oleh Steven Spielberg dan Phil Jackson. Pernah saya mempersentasikan film ‘Sibayak’ itu dengan sebuah pengusaha ternama Karo. Dia kaget ketika saya mengatakan dana pembuatan film itu 5 milyar! “Mahal kali!” katanya saat itu. Kenapa film itu mahal? Pertama settingnya mengangkat Karo tempo dulu dimana artistiknya harus digarap detail. Kedua saya harus membawa 40 kru plus beberapa pemain utama dan puluhan pemain pemain pembantu dari Jakarta. Belum lagi saya berkeinginan aktor lagi naik daun Nicolas Saputra memerankan tokoh ‘Santa Perkeleng’ (Nicolas Saputra berhonor 200 juta satu film). Juga saya ingin mencasting seorang aktris Belanda untuk memerankan ‘Hanna de Jong’ (bayarannya mungkin hampir sama bahkan lebih). Saya ingin memakai Nicolas Saputra sebagai bagian komersil dari film ini. Jika saja film ini memakai nama baru tentu kita akan berjudi dengan keberhasilan film ini. Saya juga harus bekerjasama dengan kedutaan Belanda dan Jepang. Berbagai ijin dalam negeri harus segera diurus. Belum lagi publikasi. Proyek ini memang proyek miliaran. Apakah film ini akan sukses dipasaran? Barpatokan dari tema yang diangkat saya optimis dengan keberhasilan film ini. Tema sejarah ini sangat jarang diangkat karena film Indonesia saat ini sedang marak dengan tema remaja dan horor. Kalau dari berapa orang Karo yang menonton film ini (menurut catatan Darwan Prinst jumlah orang Karo sekitar 3 juta jiwa termasuk yang masih memakai merga maupun yang sudah menanggalkan merganya), satu juta saja orang Karo yang datang untuk menonton, film ini sudah termasuk kategori box office. Belum lagi penggemar Nicolas Saputra dan artis pendukung lainnya. Ditambah kelayakan film ini untuk dikonsumsi luar negeri. Dari jumlah penonton dan setting yang saya paparkan diatas menjadi pertimbangan tersendiri bagi film ini untuk mengikuti festival film Asia Pasifik, Cannes bahkan Academy Awards untuk kategori film asing. Banyak orang menyebut saya terlalu mengada-ngada dan terlalu bermimpi. Saya balik bertanya kalau tidak ada impian untuk apa kita hidup. Hidup adalah kerja keras agar impian itu menjadi kenyataan. Bioskop yang sudah ada memang sudah almarhum seiring dengan perkembangan jaman. Saya berharap suatu saat nanti bisa berdialog dengan Pemda Karo juga beberapa pengusaha Karo ternama agar mendirikan Bioskop 21 di Tanah Karo tercinta. Sehingga orang-orang tidak perlu berduyun-duyun ke Medan untuk menonton film saya kelak. Begitu juga keinginan saya untuk memiliki sebuah mobil caravan besar dimana didalamnya selayaknya mini teater (bioskop mini). Mobil itu akan memasuki setiap kuta di 13 kecamatan Tanah Karo dan setiap anak kuta akan bisa menikmati suguhan bioskop mini dengan film-film bermutu termasuk film saya tentunya. Tentu saja suguhan itu dinikmati dengan gratis sebagai bentuk kecintaan saya pada Tanah Karo yang telah melahirkan saya dengan segala talenta saya yang saya miliki. Saya sangat merindukan berbuat sesuatu untuk Karo. Film adalah bentuk pengabdian saya. Walau banyak rintangan dan halangan tapi saya mencoba mengatasinya. Seperti sebuah kata-kata indah ketika saya suatu Pagi bersaat teduh, “Pray Changes Things.” Mungkin tidak hari ini tapi bisa saja esok lusa. Selagi kaki saya masih bisa berdiri dan tangan saya masih bisa berkarya, suatu hari kelak film Karo itu akan terwujud. Karo adalah hidup dan entah kenapa saya begitu mencintainya. Joey Bangun Sutradara, Aktor, Penulis, Penyair, dan Model
Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.22 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
< Sebelumnya   Berikutnya >
Forum Terbaru
Latest Forum Posts
TopicsByCategoryDate
Hotel di KabanjaherobbyJALAN-JALAN09-03-08 08:33
mejuah-juahMA_171_NG[[-MUDA-MUDI KARO-]] Jawa Barat07-10-07 16:52
Re:cari beru karo purba ajadhillo kembarenCARI TEMAN LAMA/SEKOLAH/SEKAMPUNG/PACAR18-09-07 19:00
mo nanya nih.....yuliusFORUM MERGASLIMA15-09-07 10:34
Permintaan Maaf..adminIKATAN MAHASISWA KARO/IMKA08-09-07 07:08
Advertisement