|
Desa Lingga, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Tanah karo, Sumatra Utara,
adalah salah satu kawasan wisata andalan di Karo. Di desa ini masih berdiri
kokoh rumah salah satu raja Karo, yaitu Raja Sibayak Lingga (Sinulingga),
berusia lebih dari 300 tahun.
Desa Lingga
merupakan salah satu dari 274 desa di Tanah Karo yang menyisakan warisan
arsitektur tradisional. Desa ini terletak sekitar 15 km dari kota Brastagi yang
sejuk dan terkenal dengan jeruknya. Desa Lingga berjarak sekitar 81 km dari
Medan.
Menurut salah
satu keluarga keturunan raja Sinulingga, Hanta Ginting, sebelum 1990-an di Desa
Sinulingga masih berdiri 30 unit bangunan adat, satu rumah raja atau rumah gerga
(ukiran) dan satu jambur (tempat pertemuan), pendopo kecil dan selebihnya rumah
masyarakat biasa. Namun, karena tidak dirawat, sebagian besar bangunan
bersejarah itu runtuh. Pemiliknya lalu membangun dengan gaya masa ini.
Berbeda
dengan rumah adat Karo yang umumnya dinamakan siwaluh jabu, artinya delapan
keluarga tinggal dalam satu rumah, rumah raja disebut sepuluh jabu, ditinggali
10 keluarga. Dalam rumah raja tak dikenal istilah pelayan atau dayang-dayang,
semuanya adalah anggota keluarga.
Anggota
keluarga yang tinggal di rumah tersebut memiliki jabatan masing-masing, yaitu
kalingbubu (orang yang paling dihormati atau istimewa), sembuyak atau saudara
kandung, baik itu saudara kandung satu bapak maupun satu kakek dan anak beru
atau sebagai pelaksana urusan keluarga. Jabatan ini tidak dibedakan berdasarkan
usia, namun silsilah keluarga.
Rumah gerga
lebih besar dari rumah-rumah adat di sekitarnya. Ornamen di dinding luar rumah
juga berbeda. Ornamen di rumah raja adalah ukiran, sedangkan rumah lainnya
dilukis.
Bangunan simetris
Rumah
berbentuk panggung dan beratap ijuk, dimana jumlah ijuknya enam ribu lembar,
bangunan simetris, memiliki dua pintun (pintu) dan delapan jendela, yaitu empat
di kiri dan empat di kanan.
Tegak lurus
di atas pintu rumah, tepat di tempat paling tinggi bangunan terdapat tanduk
kerbau yang menandakan kemakmuran dan kekuasaan. Di dalam ruangan hanya ada satu
kamar, yaitu kamar untuk orang yang paling dihormati (kalingbubu).
Ruangan
setiap keluarga disebut jabu. Kolong rumah dimanfaatkan sebagai kandang ayam,
babi serta tempat menyimpan kayu bakar. Bangunan berukuran minimal 10m x 30m
(300 m2), dibangun tanpa paku dan mampu bertahan hingga 300 tahun lebih atau
lebih dari enam generasi.
Sama seperti
rumah rakyat biasa, rumah raja juga tidak dilengkapi kamar tidur dan ruang tamu.
Semua anggota keluarga tidur di jabu atau ruangan tanpa penyekat. Khusus untuk
bapa (bapak) dan Nande (ibu) diberi penyekat berupa kain panjang yang setiap
Pagi dilepas.
Ruangan
memiliki banyak fungsi, yakni untuk rapat keluarga, memasak, tempat makan,
santai, berkumpul, sekaligus tempat tidur keluarga. Rumah dibagi 10 petak,
dengan ukuran sama tanpa adanya penyekat, satu petak untuk satu keluarga. Setiap
dua petak, terda-pat satu tungku perapian untuk memasak yang digunakan dua
keluarga. Meskipun hanya ada satu tempat memasak, setiap keluarga mempunyai
perkakas dapur sendiri
|