|
Film Piso Surit, Kejutan dari Masa Lalu |
|
|
|
|
Ditulis Oleh Joey Bangun
|
|
Terkejut, dan sungguh-sungguh terkejut, ketika saya
membolak-balik diktat Sejarah Film Indonesia yang ditulis oleh H. Misbach Yusa
Biran seorang tokoh perfilman nasional. Kebetulan diktat tersebut menjadi bahan
kuliah saya di mata kuliah dengan judul yang sama yaitu Sejarah Film Indonesia.
Betapa terkejutnya ketika di halaman 52 diktat tersebut saya mendapatkan gambar
(copyan) film berjudul Piso Surit karya sutradara Bachtiar Siagian. Terus terang
saya belum pernah mendengar tentang film ini. Yang saya tahu Bachtiar Siagian
mendapatkan piala Citra pada Festival Film Indonesia tahun 1960 untuk film yang
juga bertema karo berjudul turang. Film ini merupakan film terbaik saat itu dan
bersetting tentang perjuangan rakyat Karo melawan Belanda.
Siapa sangka
Bachtiar Siagian juga membuat film bertema Karo kedua berjudul Piso Surit. Ada
apa sebenarnya dengan Bachtiar Siagian? Siapa dia? Mengapa dia begitu dekat
dengan kultur Karo.
Menurut informasi, Bachtiar Siagian adalah seorang tokoh LEKRA (Lembaga
Kebudayaan Rakyat), sebuah lembaga yang terkait erat dengan Partai Komunis
Indonesia (PKI). Dalam garapannya Bactiar Siagian memang banyak menggarap
film-film berlatarbelakang budaya. Sayangnya semua film karya Bactiar Siagian
termasuk Turang dan Piso Surit telah dimusnahkan karena dianggap berbau komunis
saat kejadian G30S. Padahal Turang dan Piso Surit sama sekali tidak mempunyai
tema komunisme.
Saya
beranggapan kalau Piso Surit dibuat karena Bachtiar Siagian terinspirasi dari
lagu ciptaan Djaga Depari yang memang sedang hangat-hangatnya kala itu. Lagu
tersebut juga menjadi soundtrack dari film ini.
Di bawah ini informasi lengkap tentang film Piso Surit yang diambil dari buku
Katalog Film Indonesia yang dirangkum oleh JB Kristanto.
Produksi : Pelangi Film (Abubakar Abdy), 1960
Sutradara : Bactiar Siagian
Cerita : Bachtiar Siagian
Penata Fotografi : akin
Penata Artistik : Oey She Tian
Penata Musik : Iskandar
Pemain, Mieke Wijaya, Ahmadi Hamid, Slamet Baju.
Sinopsis :
Wita (Mieke
Wijaya), mahasiswi datang ke Tanah Karo untuk mengadakan penelitian budaya.
Untuk itu ia menyewa kuda dari Pande (Ahmadi Hamid), orang tua pandir yang
mengimpikan punya sado sendiri. Hubungan yang makin lama makin erat, Pande
antara lain mengajarkan lagu Piso Surit yang membuat Pande lama-lama jatuh
cinta. Segala tindakan Wita dianggapnya balasan cinta, hingga suatu hari ia tak
tahan dan berusaha memperkosa Wita. Untung Wita bisa menginsyafkan Pande, yang
lalu jadi malu dan lari untuk bunuh diri. Kawan Pande yang disuruh Wita,
berhasil mengajak pulang Pande. Wita memaafkan tindakan Pande dan besoknya
pulang kembali ke kota. Di jalan Wita ketemu Pande yang memberinya kenangan
berupa selendang Karo.
|