|
Ninta (bukan nama sebenarnya), 23 tahun, beru karo, suatu kali mengejutkan saya
dengan sms yang dikirimnya ke telepon genggam saya. Bagaimana tidak, sms itu
bertuliskan, “Menurut lo kapan sih budaya Karo itu yang betul-betul murni?”.
Saya mencoba memutar otak. Daripada salah menjawab saya balik
membalas smsnya, “Kemurnian yang gimana yang lo maksud?”. Tidak sampai dua menit
dia balik membalas, ”Maksud gue, budaya Karo yang asli. Dan betul-betul asli!”.
Sepuluh menit saya terhenyak di kamar dengan pikiran berputar-putar. Pertanyaan
gadis ini mencoba menguji saya atau malah menjebak saya. Kebetulan Ninta adalah
teman baru saya. Dia kenal saya melalui sebuah milis Karo. Dia banyak bertanya
tentang budaya Karo pada saya karena memang dia tidak paham. Kebetulan gadis
manis ini lahir dan besar di Jakarta. (walau saya belum pernah ketemu dengannya,
saya tahu dia manis dari fotonya di friendster ketika mengadd friendster saya).
Akhirnya saya menjawab dengan kepastian, “Sejak kolonial belum menduduki Karo.”
Langsung dia membalas lagi, “Gue tunggu besok lo di YM jam biasa.” YM maksudnya
disini adalah koneksi chatting dengan Yahoo Messenger.
Pertanyaan yang diutarakan Ninta adalah pertanyaan ringan tapi malah menyeret
kita pada peradaban masa lalu. Kapan sebenarnya kebudayaan Karo itu betul-betul
asli?
Pasti tidaklah sekarang. Kebudayaan telah terseret pada perkembangan zaman. Tapi
satu kesimpulan yang harus menjadi acuan adalah, keaslian kebudayaan Karo itu
diawali dari lahirnya peradaban sampai datangnya kolonialisme.
Mengapa sampai datangnya kolonialisme? Kolonialisme telah mengintimidasi
kebudayaan dengan kultur barat. Kebudayaan diceraiberaikan demi kepentingan
politik imperialisme.
Awal kolonial menduduki Karo Jahe dan Karo Langkat mulailah timbul larangan
untuk begini dan begitu. Dan di awal abad 20 mulailah kolonial merengsek ke Karo
Gugung, maka para Sibayak, Raja Urung, dan Pengulu diperalat oleh satu
pernyataan adat yang berkembang adalah keputusan dan hukum pimpinan adat. Satu
doktrin yang diharamkan oleh adat Karo dengan kebiasaan runggu dengan tatanan
Sangkep Nggeluh.
Hal ini semakin berkembang dengan dominasi kolonialisme. Masyarakat Karo tidak
berdaya membela kebudayaannya. Kebudayaan yang ada diharamkan.
Dan di era keluarnya kolonialisme dari negeri pertiwi, kebudayaan Karo sudah
tidak lagi utuh dalam menjalan fungsinya. Nah disinilah era dimana kebudayaan
Karo tidak asli lagi.
Memasuki abad 21 kecondongan dari orang Karo adalah memakai adat simpel, ringkas
dan hemat. Terutama di kota-kota besar yang tidak lagi menjunjung tinggi pola
keaslian kebudayaan. Bisa dimaklumi, selain alasan biaya dan efektifitas, multi
kultur masyarakat perkotaan telah menyeret masyarakat Karo pada arus modernisasi
pola hidup. Hal ini sedikit demi sedikit mengikis kebudayaan Karo itu sendiri.
Budaya Karo sudah tidak berdaya lagi dalam mengarungi perkembangan jaman. Ada
kecendrungan dua sampi Tiga generasi ke depan malah adat dan budaya sudah tidak
dipakai lagi sebagai akhlak kehidupan.
Jadi kembali kepada pertanyaan Ninta yang dikaitkan pada keaslian kebudayaan
Karo. Bagaimana menanggulanginya? “Kembali ke alam pikir Karo,” kata Malem ukur
Ginting dari Goteborg, Sweden, dalam satu tulisannya. Hal ini tidak bisa
dikaitkan dengan animisme dan dinamisme kepercayaan Karo tempo dulu. Dan jika
sampai disana, tentu akan timbul pertanyaan pada agama yang kau dan aku anut.
Manakah adat yang harus dipakai dan mana yang harus diharamkan. Dan sejak itu
pula kebudayaan Karo sudah tidak asli lagi.
|