|
Sama seperti bika ambon, sirup markisa, pun dianggap sebagai oleh-oleh khas dari
Medan. Adalah Suwandi Onggo (68) yang memulai usahanya membuat syrup di Jl Medan
- Brastagi Km 62, Peceren Desa Sempa Jaya, Brastagi (Sumut). Onggo sendiri
sekarang sudah meneruskan usaha pada anak-anaknya, Peggy dan Edwin Onggo.
Sirup markisa
Onggo yang terkenal memakai nama Pyramid Unta. Awalnya, usaha ini dikelola orang
Belanda. Namanya sirup Cap Kalkun. "Tetapi saat itu sirup markisa hanya dibuat
sekadarnya. Sekarang kami mengolahnya dengan profesional. Maka namanya pun
diganti jadi Pyramid Unta," jelas Peggy.
Buah markisa
sendiri diperoleh keluarga Onggo dari Tanah karo, asal domisili Onggo, Dairi,
Samosir, Solok, dan Ujung Pandang."Di Tanah Karo tumbuhan ini malah kami budi
dayakan, lo. Tetapi hasilnya masih terbatas. Karena itulah kami juga bekerja
sama dengan petani dalam hal pengadaan bibit," kata Peggy.
Masih banyak
sirup markisa lain yang beredar di Medan. Namun Peggy menyebutkan tak khawatir
perusahaannya tergeser. "Soalnya kami selalu menjaga mutu. Gulanya adalah gula
murni," tegasnya.
Kala markisa
sedang musim, mereka mengumpulkan sari markisa. Sari ini diperoleh dari daging
buahnya. Kalau sedang musim, sehari mereka bisa membuat 60 ton sari markisa.
"Tetapi kalau sedang tidak musim, paling-paling 15 ton per hari," lanjut Peggy
yang sudah memiliki 50 karyawan.
Untuk
memudahkan orang membawa oleh-oleh markisa, Onggo sudah mempersiapkan sirup ini
dalam bentuk DO. Hingga orang tak perlu menenteng markisa yang berat itu ke luar
kota sebagai oleh-oleh. "Para pembeli tinggal menukarkan DO yang kami buat di
kota tempat kita berada."
Selain
sebagai oleh-oleh, orang Medan senang menyuguhkan sirup ini di kala Lebaran atau
Tahun Baru. "Makanya permintaan di saat-saat itu atau di bulan puasa meningkat
banyak."
|