|
Ditulis Oleh Joey Bangun
|
|
Sebuah Catatan Budaya
Ndilo Uari udan
Ndilo Uari Udan adalah memohon untuk datangnya hujan kepada Dibata atau Tuhan.
Masyarakat karo percaya bahwa musim kemarau (Tidak datangnya hujan) karena ulah
manusia itu sendiri. Misalnya ulah manusia dengan alam, perkawinan sumbang
(semerga) atau hal-hal yang dilarang oleh adat.
Adat Ndilo Uari Udan dikenal juga dengan kebiasaan Ersimbu (perang air) dengan
berbagai jenis permainan tanpa menghiraukan aturan-aturan adat. Harapannya
dengan adanya Ersimbu ini maka akan terjadi banyaknya penguapan air.
Ada lagi cara lain untuk mendatangkan hujan ini yang dikaitkan dengan ritus
Ndilo Uari Udan. Banyak orang pergi ke hutan untuk memukul-mukul kayu dan
membakar bagian-bagian tertentu dari kayu-kayu lapuk secara terbatas dan
menggulingkan bebatuan ke hutan. Kegiatan ini juga ikut mempengaruhi penguapan
kelembaban udara.
Beberapa tahapan untuk melakukan upacara Ndilo Uari Udan. Mere Buah Huta-huta
yaitu dilakukan untuk penyembahan kepada nini penunggu desa dan dilakukan
masyarakat desa yang dibantu oleh guru biasanya dilakukan pukul 6 Pagi.
lalu Erlemboh-lemboh yang dilakukan di halaman luas ( kesain Mbelang) menghadap
Buah Huta-huta. Ritus ini dilakukan oleh semua perempuan yang berpakaian hitam
sebagai simbol hujan (awan hitam). Ritus ini dilakukan 4 malam berturut-turut.
Kaum lelaki melihat dari tempat jauh dan membantu bila ada yang diperlukan.
Kemudian dilanjutkan dengan Ersimbu yaitu perang air dengan alat kercek
(semprotan dari ruas bambu) dengan alat lainnya seperti sicoco-cocon di sungai
tanpa ada balas dendam. Dalam acara ersimbu ini membenarkan siapa saja bisa
menyiram siapa saja. Biasanya kebiasaan ini tidak ada mengenal pantangan rebu
dalam adat walau dibeberapa desa pantangan rebu ini tetap dijaga. Malah orang
asing (tandang) ke desa itu juga turut kena semprotan.
Sebelum hari pelaksanaannya terutama para pemuda-pemudi dan remaja sudah
mempersiapkan peralatannya berupa kercek sedangkan para gadis menyiapkan ember.
Diantara mereka ada juga mempersiapkan palam yaitu alat penghitam muka terbuat
dari tempara yang digiling untuk dioleskan ke mukanya dan muka orang lain.
Biasanya perang air ini umumnya antara laki-laki dan wanita, perseorangan, atau
group-group. Acara ini dimulai dari pagi hari (nangkih-nangkih matawari), semua
warga desa berkumpul di kesain simbelang ( alun-alun). Pembukaan ersmbu didahului
dengan mencurahkan air secara simbolis kepada 11 orang yaitu simantek kuta
(pendiri desa, pengulu), anak beru kuta, kalimbubu kuta, Senina dari simantek
kuta, dukun (guru) yang ada di kampungm dan lain-lain. Jumlah sebelas karena
angka 11 mempunyai makna magis pada orang Karo dulu, menandakan selamat
sejahtera karena ersada tendi ku rumah. Mereka ini dimandikan dekat tempat
erlemboh-lemboh pada tanah miring agar airnya cires (mengalir). Setelah itu
acara ersimbu sudah resmi dimulai.
Bilan ersimbu gagal mendatangkan hujan maka dilakukan nggulangi batu yaitu
menggulingkan batu ke hutan atau memukul-mukul kayu di hutan.
Jika masih gagal maka diadakan pelaga rubia-rubia yaitu mengadu
binatang-binatang. Ini adalah tahap akhir mendatangkan hujan yang dilakukan Guru
simbelin si mesinting (Dukun hebat dan sakti). Acara mengadu binatang ini
menggambarkan bahaya kekeringan dan kekurangan air. Binatang yang diadu seperti
kucing, jangkrik, katak, bunglon, kadal, semut dan lain-lain.
Didedikasikan untuk
Pastor Jakobus Ginting di Roma - Italia.
- with novena pray -
|