Tanah Karo Online [ Tanahkaro!Foundation ]

Saturday
May 17th
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Berita Terbaru arrow Joey Bangun arrow Ndilo Uari Udan
Ndilo Uari Udan PDF Cetak E-mail
Penilaian Pengguna: / 0
BurukTerbaik 
Ditulis Oleh Joey Bangun   

Sebuah Catatan Budaya
Ndilo Uari udan


Ndilo Uari Udan adalah memohon untuk datangnya hujan kepada Dibata atau Tuhan. Masyarakat karo percaya bahwa musim kemarau (Tidak datangnya hujan) karena ulah manusia itu sendiri. Misalnya ulah manusia dengan alam, perkawinan sumbang (semerga) atau hal-hal yang dilarang oleh adat.

Adat Ndilo Uari Udan dikenal juga dengan kebiasaan Ersimbu (perang air) dengan berbagai jenis permainan tanpa menghiraukan aturan-aturan adat. Harapannya dengan adanya Ersimbu ini maka akan terjadi banyaknya penguapan air.

Ada lagi cara lain untuk mendatangkan hujan ini yang dikaitkan dengan ritus Ndilo Uari Udan. Banyak orang pergi ke hutan untuk memukul-mukul kayu dan membakar bagian-bagian tertentu dari kayu-kayu lapuk secara terbatas dan menggulingkan bebatuan ke hutan. Kegiatan ini juga ikut mempengaruhi penguapan kelembaban udara.

Beberapa tahapan untuk melakukan upacara Ndilo Uari Udan. Mere Buah Huta-huta yaitu dilakukan untuk penyembahan kepada nini penunggu desa dan dilakukan masyarakat desa yang dibantu oleh guru biasanya dilakukan pukul 6 Pagi.

lalu Erlemboh-lemboh yang dilakukan di halaman luas (kesain Mbelang) menghadap Buah Huta-huta. Ritus ini dilakukan oleh semua perempuan yang berpakaian hitam sebagai simbol hujan (awan hitam). Ritus ini dilakukan 4 malam berturut-turut. Kaum lelaki melihat dari tempat jauh dan membantu bila ada yang diperlukan.

Kemudian dilanjutkan dengan Ersimbu yaitu perang air dengan alat kercek (semprotan dari ruas bambu) dengan alat lainnya seperti sicoco-cocon di sungai tanpa ada balas dendam. Dalam acara ersimbu ini membenarkan siapa saja bisa menyiram siapa saja. Biasanya kebiasaan ini tidak ada mengenal pantangan rebu dalam adat walau dibeberapa desa pantangan rebu ini tetap dijaga. Malah orang asing (tandang) ke desa itu juga turut kena semprotan.

Sebelum hari pelaksanaannya terutama para pemuda-pemudi dan remaja sudah mempersiapkan peralatannya berupa kercek sedangkan para gadis menyiapkan ember. Diantara mereka ada juga mempersiapkan palam yaitu alat penghitam muka terbuat dari tempara yang digiling untuk dioleskan ke mukanya dan muka orang lain. Biasanya perang air ini umumnya antara laki-laki dan wanita, perseorangan, atau group-group. Acara ini dimulai dari pagi hari (nangkih-nangkih matawari), semua warga desa berkumpul di kesain simbelang (alun-alun). Pembukaan ersmbu didahului dengan mencurahkan air secara simbolis kepada 11 orang yaitu simantek kuta (pendiri desa, pengulu), anak beru kuta, kalimbubu kuta, Senina dari simantek kuta, dukun (guru) yang ada di kampungm dan lain-lain. Jumlah sebelas karena angka 11 mempunyai makna magis pada orang Karo dulu, menandakan selamat sejahtera karena ersada tendi ku rumah. Mereka ini dimandikan dekat tempat erlemboh-lemboh pada tanah miring agar airnya cires (mengalir). Setelah itu acara ersimbu sudah resmi dimulai.

Bilan ersimbu gagal mendatangkan hujan maka dilakukan nggulangi batu yaitu menggulingkan batu ke hutan atau memukul-mukul kayu di hutan.

Jika masih gagal maka diadakan pelaga rubia-rubia yaitu mengadu binatang-binatang. Ini adalah tahap akhir mendatangkan hujan yang dilakukan Guru simbelin si mesinting (Dukun hebat dan sakti). Acara mengadu binatang ini menggambarkan bahaya kekeringan dan kekurangan air. Binatang yang diadu seperti kucing, jangkrik, katak, bunglon, kadal, semut dan lain-lain.

Didedikasikan untuk Pastor Jakobus Ginting di Roma - Italia.

- with novena pray -

Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.22 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
< Sebelumnya   Berikutnya >
Forum Terbaru
Latest Forum Posts
TopicsByCategoryDate
Hotel di KabanjaherobbyJALAN-JALAN09-03-08 08:33
mejuah-juahMA_171_NG[[-MUDA-MUDI KARO-]] Jawa Barat07-10-07 16:52
Re:cari beru karo purba ajadhillo kembarenCARI TEMAN LAMA/SEKOLAH/SEKAMPUNG/PACAR18-09-07 19:00
mo nanya nih.....yuliusFORUM MERGASLIMA15-09-07 10:34
Permintaan Maaf..adminIKATAN MAHASISWA KARO/IMKA08-09-07 07:08
Advertisement