Tanah Karo Online [ Tanahkaro!Foundation ]

Friday
May 16th
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Berita Terbaru arrow Kolomnis arrow Joey Bangun arrow Eksistensi Kesenimanan Karo
Eksistensi Kesenimanan Karo PDF Cetak E-mail
Penilaian Pengguna: / 0
BurukTerbaik 
Ditulis Oleh Joey Bangun   

Joey, pokoknya bibi engga mau tahu. Tahun ini karo harus berangkat ke Belanda, kata bibi Butar br Sitepu mengakhiri pembicaraan kami lewat telepon genggam. Saya menekan tombol no call handphone milik saya sembari menghela nafas. siapa ya?, saya tercenung sendiri di kamar rumah keluarga saya di kawasan Padang Bulan Medan awal Januari lalu.

Bibi Butar br Sitepu diantara masyarakat Karo Jakarta sudah tidak asing lagi. Terutama di komunitas Karo Muslim. Istri dari Laksamana Madya Ishak Latuconsina (salah seorang petinggi Badan Intelejen Negara) ini menjabat sebagai ketua III DPP Himpunan Masyarakat Karo Indonesia (HMKI). Kebetulan Departemen Budaya dan Pariwisata HMKI yang saya pimpin langsung dibawah komando bibi Butar.

Beberapa waktu lalu bibi Butar memimpin duta kesenian Indonesia mementaskan beberapa pertunjukan di Belanda akhir tahun lewat. Secara pribadi bibi Butar mempunyai tanggung jawab untuk mengangkat nama Karo di bidang yang digelutinya. Itulah sebabnya dia memerintahkan saya untuk menyiapkan duta kesenian Indonesia yang akan diwakili kesenian Karo untuk berangkat tahun ini ke Belanda. Karena kesenian Karo sudah disiapkan untuk menjadi agenda Republik Indonesia sebagai duta kesenian atas tanggung jawab bibi Butar.

Saya memutar otak kencang untuk mencari-cari dalam shortlist dalam otak saya, siapa ya seniman Karo yang berkaliber International. Atau paling tidak namanya harum di tingkat Nasional karena kesenimanan Karonya.

Akhinya dengan kesal saya lempar bantal guling ke dinding kamar. Mengapa tidak ada!! kata saya berteriak. Saya tidak bisa membayangkan, kalau saja saya tidak memenuhi keinginan bibi Butar, ini akan menjadi mimpi buruk bagi hidup saya sepanjang tahun 2007 ini.

Siapa Seniman Karo

Remy Silado (Juri Festival Film Indonesia yang kontroversial itu), suatu hari berkata pada saya, Seorang Seniman pastilah dia seorang Budayawan.

Kebetulan Remy adalah guru saya di bidang penyutradaraan dan teknik penulisan. Beberapa kali saya tidur di rumahnya di bilangan Jatinegara Jakarta timur, hanya untuk menyerap ilmu dari sutradara, penulis, dan juga aktor film ini.

Jangan pernah katakan dirimu Seniman, kalau kau tidak pernah menyentuh budayamu, kata Remy lagi.

Artinya seni dan budaya saling bersentuhan. Bak sayur dan garam. Sayur tidak enak kalau tidak ada garam. Begitu juga garam yang akan terasa asin kalau tidak disentuhkan ke sayur.

Seorang seniman tidak mesti lahir dari tradisional. Bisa saja dia lahir dari jalur Pop. Namun ketika manifestasi kesenimannya berkembang, ada suatu keinginan lahir dari individu tersebut untuk menggali kembali akar budayanya. Bahkan dia akan belajar dari Seniman Tradisional yang sudah lebih dulu bergelut disitu.

Seorang teman saya, orang Karo, berambut gondrong, pencipta lagu, dan kerjanya setiap malam hanya menyanyikan lagu-lagu ciptaannya dengan mabuk sambil ditemani rokok dan kopi. Teman saya ini dengan bangga mengatakan dirinya adalah Seniman. Benarkah?

Baiklah, kita mengabaikan pola hidupnya. Tapi yang pasti, tidak semua Seniman hidup dengan rokok dan kopi apalagi mabuk-mabukan. Jika saja lagu-lagu ciptaan teman saya itu belum dipublikasikan (dikomersialkan) jangan harap dia bisa dikatakan seorang Seniman. Seniman adalah seseorang yang menghasilkan karya dan karyanya itu bisa diapresiasikan serta dihargai orang banyak. Jika belum sampai disitu, jangan pernah katakan dirimu Seniman.

Jadi dari kesimpulan di atas dapat ditarik sebuah kesimpulan, Seniman Karo adalah seseorang yang menghasilkan karya seni yang dapat diapresiasikan dan dihargai oleh masyarakat Karo bahkan Nasional.

Dua Kultur Seniman Karo

Fenomena yang terjadi di masyarakat Karo justru telah membagi Seniman Karo dengan dua kultur yang berbeda, yaitu kultur Tradisi dan kultur Pop.

Kultur tradisi disini adalah Seniman Tradisional. Yang berangkat dari perangkat kesenian tradisional dalam mengaktualisasi kesenimannya. Sebutlah nama-nama seperti Alasen Barus, Jasa Tarigan, Julianus Limbeng, Mbaga Ginting, Ramona Purba, Stasion Tarigan, Tukang Ginting, Ulina br Ginting, Henry Bangun, dan lain sebagainya. Mereka berangkat dari kesenian tradisional. Dan memang dikenal masyarakat karena karya-karyanya dalam dunia kesenian tradisional Karo.

Dari kultur tradisi ini baru Ramona Purba yang baru bisa sampai ke level Nasional. Itupun bukan karena sebuah produk dari kesenian Karo. Penyanyi yang dijuluki Stevie Wonder Indonesia ini terangkat karena menyanyi lagu Indonesia yang sama sekali tidak menyentuh kesenian Karo.

Kultur Pop adalah Seniman Karo yang berangkat bukan dari kesenian tradisional. Nama-nama yang menoreh tinta emas ini antara lain El Manik, Advent Bangun, Sakurta Ginting, Josep Ginting, FES Tarigan, Trasta sembiring, Ana Pinem, Reynold Surbakti, Malvinas Pinem, Herri Ketaren, dan masih banyak lagi.

Namun mayoritas nama di atas belum menyentuh seni tradisi. Hanya Herri Ketaren yang mempersembahkan bakatnya untuk kesenian tradisional Karo. Sutradara lulusan IKJ ini beberapa kali ikut menggarap video klip lagu Karo. Ironis memang. Seorang dari nama di atas pernah berkata pada saya, Dari kesenian Karo kita mau makan apa? Tidak ada uang, Joey.

Memang ada nama yang berangkat dari seniman Pop dan masuk ke jalur tradisi. Seperti Tio Fanta Pinem dan Santa Hokky br Ginting. Kedua kakak saya ini lebih dikenal dulu di blantika musik Nasional sebelum masuk ke jalur Karo. Namun sayangnya, ketika mereka masuk ke rimba kesenian Karo, mereka akhirnya tersesat dan seolah tidak mampu lagi mengangkat nama mereka kembali ke pentas Nasional. Ini salah siapa?


Seniman Karo Tradisi  Nasional  Internasional

Secara pribadi saya sangat mengagumi Julianus Limbeng. Seniman Karo asal kuta Jurung ini adalah seniman serba bisa. Seniman dengan nama panggung Liembeng ini bisa memainkan segala alat musik pop maupun tradisional Karo. Selain itu Liembeng adalah Seniman Karo pertama peraih S-3 di bidang Seni dan Antropologi. Dari pertama mengenalnya saya sudah terobesesi kalau Liembeng adalah Seniman Karo terdahsyat di masa akan datang.

Saya mengenalnya pertama kali tahun 1995 di PIARA GBKP, ketika itu saya masih SMA, dan di acara itu saya bermain drama Penghakiman Terakhir dengan tokoh JESUS CHRIST.

Liembeng dengan perlahan tapi pasti, merangkak mengangkat citra kesenian Karo. Dia bisa bekerja dengan siapa saja. Tidak milih-milih. Termasuk dengan musisi Viky Sianipar, seorang musisi Toba yang terkenal akibat lagu Karo.

Dan selama saya mengenal Liembeng, seniman ini tidak pernah mengkritik karya seniman lain. Padahal saya tahu sosoknya bisa membuat lebih dari itu.

Obsesinya membuat sebuah orchestra musik tradisional Karo patut diberikan respon positip. Namun sayangnya Liembeng seperti berlari seorang sendiri dalam meraih impiannya. Tidak ada yang memberinya dukungan. Terutama teman-teman Seniman tradisi yang justru ingin diangkatnya.

Secara pribadi saya akan terus mendoakannya untuk terus berkarya. Apalagi untuk kesenian Karo dan Nasional.

Kesenian Karo tidak akan menghasilkan materi apa-apa. Jadi jangan bermimpi akan kaya dari kesenian Karo. Pdt. Rehpelita Ginting pernah suatu malam berkata pada saya, Janganlah terus berkarya untuk Karo. Karo tidak menghargai Senimannya. Tapi coba bawa nilai-nilai moral Karo dalam karya kam yang berstandar Nasional. Sehingga masyarakat Indonesia bisa menerimanya. Dan nilai-nilai moral Karo itu akan menjadi nilai-nilai moral bangsa ini.

Seniman Karo berkaliber Internasional

Jadi siapakah duta kesenian Karo yang akan disiapkan ke Belanda? Ini akan menjadi pertanyaan panjang. Bibi Butar telah menyodorkan nama Jasa Tarigan yang direkomendasikan orang-orang Karo Belanda. Selain dia mampu main segala macam main alat tradisional Karo. Jasa juga sudah tidak asing dengan negara ini. Beberapa kali PERKOEAH mengundangnya dalam beberapa ceremony.

Sayapun menyadari kesenian yang dijual di Pasar Internasional bukan kesenian Pop tetapi kesenian tradisi. Karena toh kesenian Pop berasal dari sana. Jadi yang pasti, seniman-seniman tradisi punya hak untuk berangkat kesana.

Sudah menjadi kewajiban saya untuk mempromosikan kebudayaan dan pariwisata Karo dalam bentuk kesenian. Karena itu memang tanggung jawab saya. Namun tanpa dukungan dari teman-teman Seniman Karo apalah artinya peran saya.

Mengatur Seniman Karo ini bak setali dua uang. Mau diangkat, malah tidak mau mendukung dan sifat cian dibawa-bawa. Kalau dilepaskan, betapa kasihannya melihat kehidupan mereka.

Itulah pekerjaan rumah saya di awal tahun 2007 ini. Syallom!

Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.22 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
< Sebelumnya   Berikutnya >
Forum Terbaru
Latest Forum Posts
TopicsByCategoryDate
Hotel di KabanjaherobbyJALAN-JALAN09-03-08 08:33
mejuah-juahMA_171_NG[[-MUDA-MUDI KARO-]] Jawa Barat07-10-07 16:52
Re:cari beru karo purba ajadhillo kembarenCARI TEMAN LAMA/SEKOLAH/SEKAMPUNG/PACAR18-09-07 19:00
mo nanya nih.....yuliusFORUM MERGASLIMA15-09-07 10:34
Permintaan Maaf..adminIKATAN MAHASISWA KARO/IMKA08-09-07 07:08
Advertisement

Gallery

Penampat

Warga Terdaftar

Tidak ada Anggota Online