|
Joey, pokoknya bibi engga mau tahu. Tahun ini karo harus
berangkat ke Belanda, kata bibi Butar br Sitepu mengakhiri pembicaraan kami
lewat telepon genggam. Saya menekan tombol no call handphone milik saya sembari
menghela nafas. siapa ya?, saya tercenung sendiri di kamar rumah keluarga saya
di kawasan Padang Bulan Medan awal Januari lalu.
Bibi Butar br Sitepu diantara masyarakat Karo Jakarta sudah tidak asing lagi.
Terutama di komunitas Karo Muslim. Istri dari Laksamana Madya Ishak Latuconsina
(salah seorang petinggi Badan Intelejen Negara) ini menjabat sebagai ketua III
DPP Himpunan Masyarakat Karo Indonesia (HMKI). Kebetulan Departemen Budaya dan
Pariwisata HMKI yang saya pimpin langsung dibawah komando bibi Butar.
Beberapa waktu lalu bibi Butar memimpin duta kesenian Indonesia mementaskan
beberapa pertunjukan di Belanda akhir tahun lewat. Secara pribadi bibi Butar
mempunyai tanggung jawab untuk mengangkat nama Karo di bidang yang digelutinya.
Itulah sebabnya dia memerintahkan saya untuk menyiapkan duta kesenian Indonesia
yang akan diwakili kesenian Karo untuk berangkat tahun ini ke Belanda. Karena
kesenian Karo sudah disiapkan untuk menjadi agenda Republik Indonesia sebagai
duta kesenian atas tanggung jawab bibi Butar.
Saya memutar otak kencang untuk mencari-cari dalam shortlist dalam otak saya,
siapa ya seniman Karo yang berkaliber International. Atau paling tidak namanya
harum di tingkat Nasional karena kesenimanan Karonya.
Akhinya dengan kesal saya lempar bantal guling ke dinding kamar. Mengapa tidak
ada!! kata saya berteriak. Saya tidak bisa membayangkan, kalau saja saya tidak
memenuhi keinginan bibi Butar, ini akan menjadi mimpi buruk bagi hidup saya
sepanjang tahun 2007 ini.
Siapa Seniman Karo
Remy Silado (Juri Festival Film Indonesia yang kontroversial itu), suatu hari
berkata pada saya, Seorang Seniman pastilah dia seorang Budayawan.
Kebetulan Remy adalah guru saya di bidang penyutradaraan dan teknik penulisan.
Beberapa kali saya tidur di rumahnya di bilangan Jatinegara Jakarta timur, hanya
untuk menyerap ilmu dari sutradara, penulis, dan juga aktor film ini.
Jangan pernah katakan dirimu Seniman, kalau kau tidak pernah menyentuh budayamu,
kata Remy lagi.
Artinya seni dan budaya saling bersentuhan. Bak sayur dan garam. Sayur tidak
enak kalau tidak ada garam. Begitu juga garam yang akan terasa asin kalau tidak
disentuhkan ke sayur.
Seorang seniman tidak mesti lahir dari tradisional. Bisa saja dia lahir dari
jalur Pop. Namun ketika manifestasi kesenimannya berkembang, ada suatu keinginan
lahir dari individu tersebut untuk menggali kembali akar budayanya. Bahkan dia
akan belajar dari Seniman Tradisional yang sudah lebih dulu bergelut disitu.
Seorang teman saya, orang Karo, berambut gondrong, pencipta lagu, dan kerjanya
setiap malam hanya menyanyikan lagu-lagu ciptaannya dengan mabuk sambil ditemani
rokok dan kopi. Teman saya ini dengan bangga mengatakan dirinya adalah Seniman.
Benarkah?
Baiklah, kita mengabaikan pola hidupnya. Tapi yang pasti, tidak semua Seniman
hidup dengan rokok dan kopi apalagi mabuk-mabukan. Jika saja lagu-lagu ciptaan
teman saya itu belum dipublikasikan (dikomersialkan) jangan harap dia bisa
dikatakan seorang Seniman. Seniman adalah seseorang yang menghasilkan karya dan
karyanya itu bisa diapresiasikan serta dihargai orang banyak. Jika belum sampai
disitu, jangan pernah katakan dirimu Seniman.
Jadi dari kesimpulan di atas dapat ditarik sebuah kesimpulan, Seniman Karo
adalah seseorang yang menghasilkan karya seni yang dapat diapresiasikan dan
dihargai oleh masyarakat Karo bahkan Nasional.
Dua Kultur Seniman Karo
Fenomena yang terjadi di masyarakat Karo justru telah membagi Seniman Karo
dengan dua kultur yang berbeda, yaitu kultur Tradisi dan kultur Pop.
Kultur tradisi disini adalah Seniman Tradisional. Yang berangkat dari perangkat
kesenian tradisional dalam mengaktualisasi kesenimannya. Sebutlah nama-nama
seperti Alasen Barus, Jasa Tarigan, Julianus Limbeng, Mbaga Ginting, Ramona
Purba, Stasion Tarigan, Tukang Ginting, Ulina br Ginting, Henry Bangun, dan lain
sebagainya. Mereka berangkat dari kesenian tradisional. Dan memang dikenal
masyarakat karena karya-karyanya dalam dunia kesenian tradisional Karo.
Dari kultur tradisi ini baru Ramona Purba yang baru bisa sampai ke level
Nasional. Itupun bukan karena sebuah produk dari kesenian Karo. Penyanyi yang
dijuluki Stevie Wonder Indonesia ini terangkat karena menyanyi lagu Indonesia
yang sama sekali tidak menyentuh kesenian Karo.
Kultur Pop adalah Seniman Karo yang berangkat bukan dari kesenian tradisional.
Nama-nama yang menoreh tinta emas ini antara lain El Manik, Advent Bangun,
Sakurta Ginting, Josep Ginting, FES Tarigan, Trasta sembiring, Ana Pinem,
Reynold Surbakti, Malvinas Pinem, Herri Ketaren, dan masih banyak lagi.
Namun mayoritas nama di atas belum menyentuh seni tradisi. Hanya Herri Ketaren
yang mempersembahkan bakatnya untuk kesenian tradisional Karo. Sutradara lulusan
IKJ ini beberapa kali ikut menggarap video klip lagu Karo. Ironis memang.
Seorang dari nama di atas pernah berkata pada saya, Dari kesenian Karo kita mau
makan apa? Tidak ada uang, Joey.
Memang ada nama yang berangkat dari seniman Pop dan masuk ke jalur tradisi.
Seperti Tio Fanta Pinem dan Santa Hokky br Ginting. Kedua kakak saya ini lebih
dikenal dulu di blantika musik Nasional sebelum masuk ke jalur Karo. Namun
sayangnya, ketika mereka masuk ke rimba kesenian Karo, mereka akhirnya tersesat
dan seolah tidak mampu lagi mengangkat nama mereka kembali ke pentas Nasional.
Ini salah siapa?
Seniman Karo Tradisi Nasional Internasional
Secara pribadi saya sangat mengagumi Julianus Limbeng. Seniman Karo asal kuta
Jurung ini adalah seniman serba bisa. Seniman dengan nama panggung Liembeng ini
bisa memainkan segala alat musik pop maupun tradisional Karo. Selain itu
Liembeng adalah Seniman Karo pertama peraih S-3 di bidang Seni dan Antropologi.
Dari pertama mengenalnya saya sudah terobesesi kalau Liembeng adalah Seniman
Karo terdahsyat di masa akan datang.
Saya mengenalnya pertama kali tahun 1995 di PIARA GBKP, ketika itu saya masih
SMA, dan di acara itu saya bermain drama Penghakiman Terakhir dengan tokoh JESUS
CHRIST.
Liembeng dengan perlahan tapi pasti, merangkak mengangkat citra kesenian Karo.
Dia bisa bekerja dengan siapa saja. Tidak milih-milih. Termasuk dengan musisi
Viky Sianipar, seorang musisi Toba yang terkenal akibat lagu Karo.
Dan selama saya mengenal Liembeng, seniman ini tidak pernah mengkritik karya
seniman lain. Padahal saya tahu sosoknya bisa membuat lebih dari itu.
Obsesinya membuat sebuah orchestra musik tradisional Karo patut diberikan respon
positip. Namun sayangnya Liembeng seperti berlari seorang sendiri dalam meraih
impiannya. Tidak ada yang memberinya dukungan. Terutama teman-teman Seniman
tradisi yang justru ingin diangkatnya.
Secara pribadi saya akan terus mendoakannya untuk terus berkarya. Apalagi untuk
kesenian Karo dan Nasional.
Kesenian Karo tidak akan menghasilkan materi apa-apa. Jadi jangan bermimpi akan
kaya dari kesenian Karo. Pdt. Rehpelita Ginting pernah suatu malam berkata pada
saya, Janganlah terus berkarya untuk Karo. Karo tidak menghargai Senimannya.
Tapi coba bawa nilai-nilai moral Karo dalam karya kam yang berstandar Nasional.
Sehingga masyarakat Indonesia bisa menerimanya. Dan nilai-nilai moral Karo itu
akan menjadi nilai-nilai moral bangsa ini.
Seniman Karo berkaliber Internasional
Jadi siapakah duta kesenian Karo yang akan disiapkan ke Belanda? Ini akan
menjadi pertanyaan panjang. Bibi Butar telah menyodorkan nama Jasa Tarigan yang
direkomendasikan orang-orang Karo Belanda. Selain dia mampu main segala macam
main alat tradisional Karo. Jasa juga sudah tidak asing dengan negara ini.
Beberapa kali PERKOEAH mengundangnya dalam beberapa ceremony.
Sayapun menyadari kesenian yang dijual di Pasar Internasional bukan kesenian Pop
tetapi kesenian tradisi. Karena toh kesenian Pop berasal dari sana. Jadi yang
pasti, seniman-seniman tradisi punya hak untuk berangkat kesana.
Sudah menjadi kewajiban saya untuk mempromosikan kebudayaan dan pariwisata Karo
dalam bentuk kesenian. Karena itu memang tanggung jawab saya. Namun tanpa
dukungan dari teman-teman Seniman Karo apalah artinya peran saya.
Mengatur Seniman Karo ini bak setali dua uang. Mau diangkat, malah tidak mau
mendukung dan sifat cian dibawa-bawa. Kalau dilepaskan, betapa kasihannya
melihat kehidupan mereka.
Itulah pekerjaan rumah saya di awal tahun 2007 ini. Syallom!
|