|
Kampung Tradisional Karo, Sebuah Impian |
|
|
|
|
Ditulis Oleh JIMMI H. SINULINGGA - SORA SIRULO
|
 SORA SIRULO EDISI PERDANA TERBIT OKTOBER 2006.
JAKARTA, Saban kali mendiang nini karo bercerita karo tempo
doeloe, selalu kucoba bayangkan suasana kala itu. Sebuah kerkampungan yang damai,
dihiasi rumah - rumah adat yang megah dan indah. Derai tawa para gadis berceng
krama sambil menenun kain atau menumbuk padi di lesung.
Obrolan hangat aron di tengah sawah sambil berkonsentrasi pada pekerjaannya.
Anakanak berlari kian ke mari, di tengah kuta, Penuh canda. Setiap aku ke Taneh
Karo Simalem, kucoba mencari bandingan dalam anganku. Tak kutemukan. Bertanya
kepada Nini
Karo: engkai ? lanai lit kuta bagi sirusur turikenndu e, Karo? Nini Karo: kerina
enggo keri. Sitading e pe enggom lanai ayo. Keri⦠Mengapa? Bukankah orang Karo
masih mendiami Taneh Karo Simalem? lalu, Nini Karo bercerita tentang Mengongsi.
Saat Revolusi Sosial yang dahsyat melanda bangsawan Karo, memaksa para sibayak
dan raja urung meninggalkan kuta atau hartanya dijarah.
Tidak sedikit yang dibunuh, dibuang dan disiksa. Banyak perkampungan indah
dibumihangus. Kini, perkampungan Karo hanyalah sejarah. Membisu. Apakah demi
nasionalisme dikorbankan sejarah dan budaya Karo yang tinggi? Aku generasi Karo
masa kini.
Bagaimana bisa lihat kekayaan budaya itu? Cukupkah dalam angan? Bisakah aku
kembali ke kampung Karo yang, konon, sangat indah itu? Sekarang, aku bermimpi
bila saja ada dibangun baru perkampungan tradisional Karo.
Informasi Selanjutnya Tentang Tabloid Sora Sirulo : |Tentang
Sora Sirulo|Kontak
Redaksi|
|