KOLOM PERLAJANGEN - SORA SIRULO EDISI PERDANA TERBIT OKTOBER
2006.
Berhura OK, Studi dan Kerja Juga OK Anak Muda Taiwan
ARI KRISNA TARIGAN, TAIPEI, Kebiasaan doyan belanja dan
tampil trendi bukan hanya gambaran anak-anak muda metropolitan Indonesia.
Muda-mudi Taipei (ibukota Taiwan) juga cenderung begitu. HP keluaran terbaru,
baju super seksi nan ketat, sepatu merek ternama dan berbagai asesoris lainnya
menghiasi tubuh. Semua serba mentereng dan mahal.
Hmm, pasti anak manja dan taunya cuman hambur-hambur uang orangtua, tuding Sora
Sirulo dalam hati saat mendarat di Taipei. Tak hanya anak-anak muda, generasi
paruh baya tak obahnya. Jika dicermati, perilaku mereka dapat dimaklumi. Taiwan
telah menjelma sebagai salah satu Naga Asia dalam ekonomi. Berbagai perusahaan
raksasa (terutama komputer), semisal Acer, Asus dan BenQ berasal dari sini.
Mereka merajai pasaran komputer jenis laptop dunia hingga 67%. Jadi, pantas
saja, daya beli Berhura OK, Studi dan Kerja Juga OK masyarakat makin
meningkat,jelas Prof. Chang, saat jemput Sora Sirulo di Chiang kai ? Sek
international Airport.
Setelah seminggu di Taipei, sisi positif anak-anak muda Taiwan mulai terlihat.
Sangat bergairah memandang hari esok. Sinar wajah memancarkan semangat
mengarungi kerasnya kehidupan. Belajar dan bekerja dengan penuh percaya diri.
Sora Sirulo mulai dapat merasakannya ketika berada diantara para mahasiswa
setempat saat bertugas sebagai peneliti tamu di National Taiwan University. Usia
belia, memang, dengan wajah imut-imut. Tapi, jangan salah sangka. Mereka sedang
tempuh studi tingkat master (S2) dan bahkan doktoral (S3).
Kegiatan rutin mereka terbilang padat. Dimulai Pagi hari, mereka sudah di
kampus. Membaca di perpustakaan dan mengikuti perkuliahan hingga larut malam.
Setelah mengantar ibu bekerja, saya langsung ke kampus hingga sore. lalu bekerja
sampingan di restoran Jepang. Baru kemudian mengerjakan tugas di perpustakan,
tutur Yu-Jian Guo (28), mahasiswa S3 Teknik Sipil.
Lain lagi dengan Chian-Hu Ho (27). Saban hari bekerja di rumah makan. Selidik
punya selidik, Ho mengambil kursus bahasa Inggris sambil kerja. Ya, saya harus
kerja lembur dan menabung banyak. Tahun depan, saya lanjutkan studi perhotelan
di Kanada, ujarnya. Bukan main! Budaya tidak bergantung pada orangtua umum
sekali. Apakah ini mobil ayah anda? tanya Sora Sirulo ke Guo. Bukan. Saya beli
dari upah bekerja di pabrik ban setiap liburan musim panas, jelasnya saat
menemani Sora Sirulo keliling Taipei.
Pantas ekonomi Taiwan kian menggurita. Sejak dini, anak anak digembleng belajar
dan kerja keras. Prilaku ini sudah mendarah daging. Belajar sambil kerja bukan
beban. Malahan, menjadi gaya hidup mereka. Tak masalah konsumtif asal duitnya
dari kantong sendiri, bukan? Sangat berbeda dengan anak-anak Indonesia,
khususnya Singuda-nguda ras Anak Perana karo. Belajar menjadi beban, bekerja
sampingan seolah tabu dan terkesan kurang terhormat. Parahnya lagi,
membelanjakan uang orangtua secara berlebihan Dianggap wajar-wajar saja. Kita
memang perlu bercermin dari generasi muda Taiwan.
Tanta Barus, Mahasiswa Pengantar Koran di Swedia.
Malem ukur GINTING, GÖTEBORG. Hartanta Barus (27 thn), saat ini sedang menempuh
studi S2 di Universitas Chalmers, Göteborg (Swedia), di bidang Management of
Logistic and Transportation atas biaya sendiri. Bersama dua mahasiswa asal
Indonesia lainnya, Tanta mencari kerja sampingan. Tidak mudah mendapatkannya
karena mereka tidak menguasai bahasa Swedia. Mereka mulai mengantar koran ke
rumah-rumah atau apartemen di berbagai bagian kota. Mulai Pkl. 03.00 atau 04.00
pagi, selama kira-kira 2 jam. Sesuatu yang sangat mengesankan dari pekerjaan
ini, kata Tanta, ketika dia naikturun tangga di perumahan yang tak punya lift.
Di Swedia hanya rumah tinggi pakai lift. Kalau hanya 3-4 tingkat umumnya tak
punya lift. Di samping pembajaan diri dan pengalaman kerja di Eropah, bisa dapat
uang tambahan pula, tutur putra Prof. Dr. Tonel Barus (dosen USU Medan) ini.
Dhany Barus (30), pegawai PLN Pusat (Jakarta) abang Tanta yang datang ke Swedia
dalam rangka training selama sebulan di swedia atas undangan SIDA (Swedish
International Development Cooperation Agency)., ingin merasakan suka duka
pekerjaan adiknya. Dia juga mencoba naikturun tangga pagi-pagi buta. Beginilah
suka duka pengalaman menyelesaikan studi di negeri Beruang Putih Swedia.
Karo Mewarnai HUT RI di Korea Selatan
SETIA ULINA TARIGAN - CHEONAN. Masyarakat Indonesia di daerah Cheonan
sekitarnya, termasuk beberapa orang Karo, merayakan HUT Kemerdekaan RI 17
Agustus 2006. Kegiatan ini diprakarsai oleh Cheonan Migrant Workers' Center
sebagai hari ucapan syukur kepada Tuhan, wadah pertemuan antar sesama Indonesia,
mempererat komunikasi dan wadah pengembangan bakat.
Acara ditata dengan baik berkat kekompakan panitia inti yang terdiri dari
berbagai suku, di antaranya Sarah br Ginting. Ketika Linda br Tarigan dengan
mengenakan pakaian kampuh dan uis Nipes serta Rosita dengan pakaian kebaya
memasuki panggung, hadirin bersorak karena mereka rindu juga dengan pakaian
daerah. Mereka menjadi pusat perhatian karena bagi orang Korea sendiri pakaian
itu juga cukup indah dan unik. Ada pesan menakjubkan dari pimpinan Cheonan
Migrant Workers' Center: Indonesia untuk jangka pendek akan menjadi negara
ekonomi besar ke 5 dunia dan negara yang pertama di dunia menurut versi Bank
Dunia.
Karena.tidak ada negara lain yang mempunyai ragam budaya seperti Indonesia,
Sumber Daya Manusia yang besar, Sumber Daya Alam yang kaya Semua itu akan
berkembang maksimal lingkungan yang bersih, jujur kreatif, dan saling menghargai
untuk mencapai kedamaian. Selanjutnya ia berpesan: Pikirkanlah Indonesia untuk
100 tahun mendatang. Kita dipanggil untuk bertanggungjawab dan setialah dalam
pekerjaan. Inilah kemerdekaaan yang sebenarnya, pembebasan mental dan juga
pembebasan Indonesia. Dari poin ini Indonesia menjadi negara pertama di dunia.
Karena Indonesia penuh dengan berkat Tuhan.
Informasi Selanjutnya Tentang Tabloid Sora Sirulo : |Tentang
Sora Sirulo|Kontak
Redaksi|
|