Profil
M. Carlos Patriawan bere Tiganna - Orang Indonesia Termuda di Silicon Valley | M. Carlos Patriawan bere Tiganna - Orang Indonesia Termuda di Silicon Valley |
|
|
|
| Ditulis Oleh PA CANGGAH & JUARA R. GINTING - Sora Sirulo | |||||||
SORA SIRULO EDISI PERDANA TERBIT OKTOBER 2006. PA Ibu dan ayahnya pertama kali bertemu di Medan (1970an). Kala itu ayahnya bertugas di Medan untuk perusahaan minyak Asamera. Carlos, anak tertua dari empat bersaudara, lahir 19 Desember 1975 di Padang Bulan, Medan. Umur setahun dia ikut ayah pindah ke Lhok Seumawe (Aceh). Tahun 1980an, ayah pindah ke Jakarta diikuti seluruh keluarga. 1998, Carlos menamatkan kuliah di sebuah PTS di Jakarta. Pertengahan 2000, Carlos bere Tarigan ini mendapat tawaran kerja di banyak perusahaan top dunia; al. Cisco System di San Jose (AS), Amazon.com di Seattle (AS), dan Network Consultant (Belgia). Dia pilih Cisco System di San Jose. Pertengahan 2005, Carlos pindah ke Juniper Networks Inc., Sama dengan Cisco System, perusahaan ini membuat alat-alat jaringan (networking equipment) untuk internet. Di sini, Carlos bekerja sampai sekarang sebagai staf tekhnis. Dia bertanggungjawab atas kualitas software dan hardware pada perangkat network device. Perjalanan Carlos mulai dengan mempelajari materi di sertifikat CCIE (Cisco Certified Internetworking Expert) yang dikeluarkan oleh Cisco System. Perusahaan ini memproduksi peralatan komputer perangkat keras untuk jaringan hubungan antar komputer di dalam satu lokasi dan atau tersebar di berbagai tempat (dikenal sebagai internet dan intranet). Peralatannya meliputi jaringan komunikasi antar komputer dalam bentuk gambar, video, suara, dan tulisan yang memungkinkan komunikasi jelas, cepat, dan teratur antar satu komputer dengan komputer lain. Umumnya peralatan ini disebut router dan switches, "Alat ini digunakan pengguna internet untuk browsing/ email dan menonton acara pada Cable Networks seperti Kabelvision di Jakarta," jelas Carlos. Untuk menjamin produknya diterapkan oleh yang betul-betul
ahlinya, Cisco System mengeluarkan berbagai sertifikat Sejak umur 12 tahun Carlos bermain komputer. Saat kelas 6 SD, dia sudah menguasai programming di Basic dan Pascal. "Saat itu sudah ada perasaan, saya dapat menjadi ahli komputer melalui bakat alam," tutur Carlos. Bagaimana bentuk perasaan itu? "Saya cepat mengerti alur dan kerangka program komputer. Sudah terasa beda minat dengan anak-anak lainnya. Saya rajin mencari tahu cara kerja (how-to) sebuah mesin. Kalau anak SD kelas 6 jaman dulu kan mikirnya main gundu." Keluarga Paya Bundung Semasa kecil, susah bagi Carlos mengatakan kepada orangtua
dan keluarga di Medan akan bakatnya. Kebanyakan tidak mengerti komputer karena
memang bidang baru di Indonesia. "Sampai sekarang, masih banyak bingung mengapa
saya mudah dapat kerja di luar negeri hanya dengan 'bermain' komputer," paparnya.
Bersama istri tercinta Dina Marlina, peranakan Betawi dan Sunda, Carlos memiliki
dua putra, Albany Muhamad Patriawan (4½ thn) dan Azhar Haneef Patriawan (2,5 thn).
2004 lalu, Carlos bawa keluarganya mengunjungi Pergendangen (Kab. Karo). "Kita
menginap di Simpang Pergendangen dan mandi sungai," tuturnya bangga pada kampung
asal ibunya Setelah dianalisa, bisa dicari kesamaan antara mereka dari berbagai negara dan tingkat ekonomi berbeda. Pertama, motivasi mereka sangat tinggi mencari kehidupan dan pekerjaan lebih baik di belahan dunia mana saja. Ke dua, mereka mempunyai keahlian yang tinggi dalam bidang komputer. Motivasi bisa lemah karena lingkungan kurang mendukung. Mengapa India sangat maju dalam bidang IT? Jawabnya, karena pemerintah mereka (sejak jaman Nehru) memprioritaskan pembangunan SDM. Beda dengan pemerintah Indonesia yang melulu fokus pada pendayagunaan SDA seperti Minyak dan Gas Bumi. Solusinya adalah motivasi diri sendiri dan tidak menunggu perubahan dari atas, urai Carlos. Carlos menemukan banyak kasus dimana engineer dan anak muda
Indonesia tidak bermotivasi tinggi, walaupun pintar. Beda dengan India dan China
yang, meskipun secara akademik tidak terlalu pintar dibanding engineer dari
Indonesia, tapi bermotivasi tinggi. Pertanyaan kedua, bagaimana mendapatkan
keahlian komputer? Menurut Carlos, bisa didapat melalui strategi dan perencanaan.
Pertama, kemampuan komputer di luar bidang akademik mesti dikuasai, harus
pro-active. Jangan menunggu dosen. Kemampuan programming harus dimiliki. Ini
diperlukan untuk mengerti alur dan cara kerja program komputer. Kemampuan
programing bisa diperoleh dari pendidikan akademik, kursus atau belajar otodidak
melalui buku-buku yang tersedia di Carlos menganjurkan agar mempelajari dan menggunakan open source operating system seperti Linux / Freebsd dan open-source program. Dengan open source, mudah membaca sebuah kode sumber. Bila mengerti kode sumber, misteri di balik sebuah program terkuak. Inilah rahasia paling besar orang India dan China sukses di Silicon Valley. Mereka punya hobi membaca source code, ujar Carlos. Saran Carlos lagi, bekerjalah di perusahaan dan industri yang mendorong pertumbuhan pengetahuan, seperti IT Consulting atau Internet Service Provider. Di sini, kita dihadapkan dengan tantangan teknis baru setiap hari. Sebagai target terakhir, bekerjalah di perusahan MNC di luar negeri, khususnya Silicon Valley. Di area ini kita tidak bekerja sebagai pengguna teknologi, melainkan sebagai penciptanya Carlos Patriawan bisa dihubungi melalui email Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya Informasi Selanjutnya Tentang Tabloid Sora Sirulo : |Tentang Sora Sirulo|Kontak Redaksi|
Powered by !JoomlaComment 3.22
3.22 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
|||||||
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
| Profil |
| Tokoh Karo |
| Tokoh Dunia |
| Tokoh Nasional |
| Opini |
| H M K I |
| Wikipedia |
| Sora Mido |
| Sora Sirulo |
| Joey Bangun |
| Tari Karo |
| Lagu Karo |
| Film/Sinema |
| Artis/Seniman Karo |
| Berita |