Tanah Karo Online [ Tanahkaro!Foundation ]

Saturday
May 17th
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Berita Terbaru arrow Wanita Karo arrow Wanita Karo arrow Membangun Organisasi Serta Budaya Politik Perempuan
Membangun Organisasi Serta Budaya Politik Perempuan PDF Cetak E-mail
Penilaian Pengguna: / 0
BurukTerbaik 
Ditulis Oleh KaroNews   
Institusi yang demokratis ibaratnya sebuah bangunan yang didirikan di atas pasir, apabila dia tidak dilapisi dengan budaya masyarakat sipil yang mendukung demokrasi (Wolfgang Merkel, Demokrasi di Asia 2003), akan hampa hasilnya.

Berangkat dari defenisi minimal tentang demokrasi, setidaknya ada dua dimensi dasar demokrasi yang saling berkaitan yaitu ; tersedianya ruang persaingan terbuka untuk mendapatkan semua kedudukan dan kekuasaan politik dan pada saat bersamaan harus tersedia pula ruang aktifitas yang cukup dengan jaminan yang memadai bagi partisipasi politik seluruh warga negara.

Belum lama ini Serikat Perempuan Independen (SPI) Deli Serdang menngadakan diskusi untuk seluruh pengurus SPI. Kegiatan ini menjadi penting bagi perempuan dan kenapa organisasi harus mempunyai "ruh politik" bagi kaum perempuan. Topik ini menjadi pijakan membangun dialektika tentang organisasi dan budaya politik perempuan masa kini dan masa datang.

Mengapa hal itu sangat diperlukan ? Tak dapat dipungkiri bahwa kegiatan atau program ini berdampak bagi perkembangan politik selanjutnya. Setidaknya usaha untuk menghidupkan penguatan bagi perempuan para anggota SPI untuk lebih paham dan menyadari bahwa organisasi begitu pentingnya. Selain mencerdaskan mereka, juga sebagai sarana mendorong beragam pengetahuan yang dimiliki sebagai mata rantai dukungan terhadap perogram-program yang lainnya.

Dari catatan yang dibuat oleh penulis, kegiatan seperti ini memang sudah menjadi agenda rutin untuk membangun pengetahuan seluruh perempuan yang tergabung dalam organisasi itu, kelak dengan kecakapan yang dimiliki diharapkan mampu membuat perempuan menyampaikan aspirasinya kepada lembaga yang bisa memperjuangkan sampai ke tingkat legislatif karena pada intinya perempuan harus menyampaikan apa yang mereka ketahui kepada yang berwenang demi tegaknya keadilan untuk perempuan dan laki-laki.

Tanpa pengetahuan apa yang nantinya bisa disampaikan dan apa yang harus disampaikan. Lewat pertemuan itu bisa menjadi tolak ukur, seperti apa kecerdasan perempuan yang akan menyampaikan aspirasi politiknya kedepan, karena mereka sudah dibina dan dibangun oleh lembaga seperti SPI. Membangun dan membiasakan perempuan bicara dalam sebuah forum nampaknya perlu terus dibudayakan, agar mereka terasah dan tidak melulu memendam kepintarannya yang selama ini kurang terasah.

Mengoptimalkan Pola Pikir
Pertemuan itu nampaknya membangun pemikiran yang kritis dari 16 orang peserta yakni pimpinan serikat perempuan Hapsari dari berbagai kabupaten kota. Tentu hal terpenting dan sangat menyentuh adalah berbagai keadaan di negeri ini didominasi oleh perempuan. Atas keadaan itu pula, setelah dipaparkan bagaimana seharusnya mengkritisi keadaan, para peserta mulai tergugah dan memberikan masukan-masukan.

Misalnya, bagaimana mereka mulai paham bahwa bentuk dominasi yang paling kuat ada dalam pikiran kita sendiri. Seseorang, apakah dia laki-laki atau perempuan mempunyai kecenderungan mendominasi cara berfikir kita, sehingga kita menjadi tergantung dan akhirnya meminggirkan potensi yang ada dalam diri kita sendiri. Selanjutnya pola relasi yang terbangun menjadi "paternalistik" dan kita tidak lagi jadi diri sendiri. Ternyata, melawan dominasi harus dari diri sendiri dengan memunculkan kemandirian berfikir dan bertindak, sesuai dengan keyakinan yang hendak diperjuangkan.

Demikian pula dalam hal membangun semangat kepemimpinan dalam organisasi. organisasi (serikat perempuan) sebagai media membangun budaya demokrasi membutuhkan kepemimpinan yang mandiri, tidak terjebak dalam hegemoni dan dominasi, baik dalam konsep dominasi laki-laki terhadap perempuan, maupun dominasi senior terhadap junior (perempuan terhadap perempuan). Pola-pola dominasi untuk penghancuran gerakan perempuan sudah sangat sukses dilaksanakan ketika negara membangun konsep "ibu yang baik" sebagai pendukung suami. Ketika itu, perempuan dididik untuk menjadi seperti "apa kata suami".

Jebakan berikutnya adalah ketika perempuan tidak berani memimpin pada saat wilayah publik sudah terbuka untuknya. Menyerahkan kepemimpinan perempuan kepada laki-laki, atau kepada perempuan lain tanpa proses membangun sistim perutusan (penyerahan mandat) adalah masuk dalam perangkap demokrasi semua.

Kedepan kita harus membangun semangat dan cara berpikir yang mengedepankan keterwakilan politik dan meninggalkan keterwakilan jenis kelamin. (Ning Habsari/waspada)

Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.22 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
< Sebelumnya
Forum Terbaru
Latest Forum Posts
TopicsByCategoryDate
Hotel di KabanjaherobbyJALAN-JALAN09-03-08 08:33
mejuah-juahMA_171_NG[[-MUDA-MUDI KARO-]] Jawa Barat07-10-07 16:52
Re:cari beru karo purba ajadhillo kembarenCARI TEMAN LAMA/SEKOLAH/SEKAMPUNG/PACAR18-09-07 19:00
mo nanya nih.....yuliusFORUM MERGASLIMA15-09-07 10:34
Permintaan Maaf..adminIKATAN MAHASISWA KARO/IMKA08-09-07 07:08
Advertisement