Wanita Karo
Wanita Karo
Hanya Sedikit Perempuan Duduk Di Parlemen | Hanya Sedikit Perempuan Duduk Di Parlemen |
|
|
|
| Ditulis Oleh KaroNews | |||||||
|
Minimnya, jumlah perempuan yang duduk dalam lembaga legislatif membuat kepentingan perempuan kurang terakses. Saat ini tercatat baru 10 persen perempuan yang duduk di kursi parlemen tingkat pusat. "Artinya, dari hampir 500 kursi di parlemen pusat, hanya 50-an saja yang diduduki perempuan. Itu salah satu sebab suara perempuan kurang diperhitungkan dalam setiap pengambilan keputusan," kata Meutia Hatta, Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan (meneg PP) saat sosialisasi peningkatan partisipasi politik perempuan, belum lama ini di Jakarta. Keadaan tersebut, ditegaskan Meutia sangat membuatnya 'gregetan'. Padahal, masalah yang menyangkut kepentingan perempuan sangat banyak, seperti masalah kekerasan dalam rumah tangga, perdagangan anak dan perempuan, pornografi dan pornoaksi serta tingginya Sekedar membalik catatan, saat ini AKI masih 307 per 100 ribu kelahiran hidup, yang merupakan angkan tertinggi di antara negara-negara di Asia Tenggara. demikian juga dengan angka buta huruf, dari hampir 15 juta jumlah yang ada di Indonesia, hampir 10 jutanya adalah perempuan. "Untungnya UU KDRT sudah diterbitkan. Tapi itu pun masih sangat kurang sosialisasinya, jadi masih seperti antara ada dan tiada," kata dia lagi. Kekecewaan yang sama diungkapkan pengamat masalah perempuan, Nursyahbani Katjasungkana. Menurutnya, komitmen politik pemerintah terhadap perempuan masih harus banyak ditingkatkan, mengingat masih belum adanya sosialisasi dan pembelajaran politik yang baik kepada kaum perempuan. Bahkan, proses pembodohan kepada perempuan hingga zaman modern seperti saat ini masih tetap berlangsung di beberapa wilayah. "Kita nggak bisa nutup mata kalau banyak sekali perempuan yang seolah sengaja dibutakan dari masalah politik dan pengambilan keputusan di sekitarnya. Pernyataan Nursyahbani tentu saja mengindikasikan adanya tekanan atau subordinasi yang terjadi pada perempuan mulai dari strata paling atas hingga ke akar rumput. Dalam banyak kasus, halangan yang diperoleh perempuan dalam kisah hidupnya mulai dari kerasnya persaingan menjadi calon legislatif hingga sulitnya mendapat akses kepada kesehatan. Itu sebabnya pada Pemilu 2009 mendatang, Kementerian Pemberdayaan Perempuan menargetkan perolehan suara pada lembaga legislatif mencapai lebih dari 30%. "Segala persiapan agar kuota parlemen bisa terlampaui sudah dilakukan sejak sekarang. Salah satunya dengan melakukan revisi pada sejumlah pasal-pasal UU Pemilu yang dipandang kurang menguntungkan Diakui Meutia pada Pemilu Berbagai alasan tersebut menurut Meutia tidak mendasar. Banyak perempuan yang sesungguhnya mampu untuk duduk dilembaga legislatif. Asalkan diberikan peluang dan kesempatan yang sama serta perlakuan yang adil dalam proses pemilu. Hampir semua perempuan yang menjadi anggota legislatif diakui Meutia mengeluhkan perlakuan anggota perlemen lainnya. Jumlah mereka yang sangat minim membuat suara dan pendapat apapun yang disampaikan perempuan nyaris tidak diperhitungkan. Revisi UU Pemilu tersebut masih terus digodog. Saat ini revisi tersebut sudah berada ditangan Mendagri dan segera dibahas di DPR. Inisiatif perubahan UU Pemilu itu sendiri murni datang dari kalangan perempuan. "Ditargetkan pada 2007 revisi UU pemilu sudah bisa dirampungkan, sehingga sosialisasi dan perencanaan untuk menggenjot perolehan kursi legislatif bagi perempuan bisa dilakukan," tegas Meutia. (dian/waspada)
Powered by !JoomlaComment 3.22
3.22 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
|||||||
| Berikutnya > |
|---|
| Profil |
| Tokoh Karo |
| Tokoh Dunia |
| Tokoh Nasional |
| Opini |
| H M K I |
| Wikipedia |
| Sora Mido |
| Sora Sirulo |
| Joey Bangun |
| Tari Karo |
| Lagu Karo |
| Film/Sinema |
| Artis/Seniman Karo |
| Berita |