Sebuah kebudayaan (etnik) tidak bisa lepas dari unsur keseniannya. Kebudayaan dan kesenian bak sayur yang tidak bisa dipisahkan dari garam. Begitu juga kedudukan kebudayaan itu diakui lebih lagi jika ada pengakuan dari sepak terjang kreatifitas keseniannya.
Saya menyebut karo dan Kekaroan. Yang saya maksud dengan Karo disini mencakup alam, budaya dan seninya. Sedang Kekaroan itu sendiri adalah terjemahan dari alam, budaya dan seni dalam bentuk pelaksanaannya.
Untuk itu disini saya mengangkat seni sebagai bahan renungan kita sebagai insan Karo dalam menyikapi kekayaan budaya yang kita miliki. Potensi kesenian Karo tidak bisa lepas dari bagaimana masyarakat Karo dalam mengapresiasikan kesenian Karo itu sendiri. Jadi, sedikit saya paparkan apa, bagaimana dan mengapa seni Karo dalam konteks perkembangan budayanya.
Seni Sastra
Bahasa Karo adalah bahasa sehari-hari yang digunakan masyarakat Karo. Ruang lingkup penggunaan bahasa itu sendiri tidak mengenal ruang dan waktu. Dimanapun dan pada saat kapanpun jika ada sesama Karo bertemu ataupun bukan orang Karo tapi mengerti bahasa Karo berhak untuk berdialog dengan bahasa Karo.
Di zaman sekarang ini sudah banyak muda-mudi sudah tidak mengerti lagi bahasa Karo. Mungkin dari pemahaman dia mengerti jika lingkungannya masih bernafaskan Karo atau paling tidak orang tuanya masih menggunakan bahasa Karo. Tapi untuk berkata-kata (mbelaskenca), sudah sangat jarang kita temui muda-mudi kelahiran diluar Tanah Karo. Sungguh ironis dan memprihatinkan jika membayangkan pelestarian budaya terletak dibahu generasi muda kita.
Belum lagi tingkat seni sastra bahasa Karo tingkat tinggu seperti “Cakap Lumat”. Misalnya seorang gadis bercintaan dengan seorang pemuda, untuk menarik perhatiannya dia menggunakan cakap lumat. Untuk lebih memperindah dan lebih menarik, seni sastra yang digunakan terkadang harus diselang-selingi dengan pepatah, perumpamaan, pantun dan gurindam.
Kalau kita golongkan seni sastra Karo dibedakan atas beberapa jenis yaitu : pantun, gurindam, anding-andingen (sindiran), perumpamaan, bintang-bintang (mirip pantun), bilang-bilang (cetusan rasa sedih), cerita mitos, legenda dan cerita rakyat.
Bahkan bilang-bilang ditulis dengan aksara Karo di sepotong bambu. Isinya adalah jeritan hati sipenulisnya. Bilang-bilang tersebut terfokus pada suasana kepedihan. Oleh karena itu ada juga yang mengatakan bilang-bilang sebagai “dengang duka.”
Sama halnya dengan daerah lain di Indonesia, Karo juga mempunyai legenda dan cerita rakyat. Misalnya Pawang Ternalem, Putri Hijau, Sibayak Barus Jahe, Guru Pertawar Reme, Si beru Rengga Kuning, Beru Karo Basukum, Dunda Katekuten, Beru Patimar, Beru Ginting Pase, Baru Tarigan Tambak Bawang, Kak tengkok bungana, Siberu Tandang Kemerlang, Tera Jile-jile, Kerbo Sinanggalatu, Perpola, Singelanja sira, Gosing Si Ajibonar dan lain sebagainya.
Aksara Karo merupakan salah satu bentuk kekayaan sastra Karo. Menurut sejarahnya, aksara Karo bersumber dari aksara Sumatera Kuno, yaitu campuran aksara Rejang, Lebong, Komering dan Pasaman. Kemungkinan aksara ini dibawa dari India Selatan, Myanmar/Siam dan akhirnya sampai ke Tanah Karo. Aksara ini hampir mirip dengan Simalungun dan Pakpak Dairi. Aksara Karo dulu ditulis di kulit kayu, tulang dan bambu.
Kesimpulan :
Sebuah realita dari perkebangan seni sastra Karo baik lisan maupun tulisan. Kekhawatiran mencuat ketika kita melihat generasi muda sudah tidak paham lagi dalam berbahasa Karo. Sudah sedikit orang yang yang tahu betul dengan turi-turin Karo yang disebut diatas. Sebagian sudah dibukukan tapi sudah menjadi barang langka. Untuk aksara tinggal segelintir orang yang mengerti.
Hendaknya kita lebih lagi menyadari arti dari peran kita sebagai bagian masyarakat Karo. Seni sastra adalah bagian dari kekayaan kebudayaan kita. Pelestarian tidak mungkin tidak terlaksana kalau tidak adanya kesadaran akan keingintahuan akan seni sastra itu sendiri.
Seni Musik
Alat musik tradisional suku Karo adalah Gendang Karo. Biasanya disebut Gendang “Lima Sedalinen” yang artinya seperangkat gendang tari yang terdiri dari lima unsur.
Unsur disini bisa kila lihat dari beberapa alat musuk tradisional Karo seperti Kulcapi, Balobat, Surdam, keteng-keteng, Murhab, Serune, Gendang si ngindungi, Gendang si nganaki, Penganak dan Gung. Alat tradisional ini sering digunakan untuk menari, menyanyi dan berbagai ritus tradisi.
Tapi sekarang perkembangan musik Karo sudah terkontaminasi dengan alat modern semacam keyboard. Keyboard sudah mendominasi kesenian Karo, sehingga timbul kesimpulan jika tidak ada Keyboard gendang Karo itu tidak ramai.
Kesimpulan :
Keyboard sudah mengangkat popularitas Karo ditingkat nasional. Misalnya saja lagu “Biring Manggis” yang banyak dinikmati orang non Karo. Tapi keprihatinan kita lihat dari perkembangan seni musik Karo saat ini. Saat ini seperangkat gendang Karo lima sedalinen hanya terlihat di acara nereh empo atau kematen. Para seniman Karo juga mulai meninggalkan perlengkapan keseniannya untuk mencari sesuap nasi. Hal ini menjadi peringatan bagi kita dalam menyikapi pelestaria seni musik Karo.
Seni Suara
Diperkirakan dibawah tahun 1800 suku Karo belum mengenal seni suara secara nyata. Kemudian dalam perkembangannya muncullah lagu-lagu yang dibawakan seseorang sebagai perende- rende. Lagunya masih cenderung sedih. Lagu ini biasa dibawakan untuk mengantar cerita atau memuja seseorang. Juga menyampaikan doa seperti lagu didong-didong.
Setelah perkembangannya lagu-lagu Karo mulai diiringi oleh gendang Karo sebagai musiknya. Yang membawakan lagu ini baik laki-laki maupun perempuan disebut permanga-mangga dan akhirnya beralih nama menjadi perkolong-kolong.
Banyak lagu Karo diciptakan dari generasi terdahulu sampai sekarang. Sebagai contoh komponis Karo yang telah melegenda adalah Djaga Depari.
Kesimpulan :
Perkembangan lagu Karo saat ini perlu dicermati lebih jauh. Karena beberapa sudah memasukkan unsur dangdut didalamnya. Jadi kemurnian dalam khas Karonya sudah tidak tampak lagi. Seperti dikatakan diatas Keyboard telah mempengaruhi kekhasan lagu Karo. Ini menjadi kekhwatiran bagi kita jika melihat acara gendang-gendang justru suasana yang tercermin seperti acara dangdutan.
Seni Tari
Tari dalam bahasa Karo disebut “Landek.” Pola dasar tari Karo adalah posisi tubuh, gerakan tangan, gerakan naik turun lutut (endek) disesuaikan dengan tempo gendang dan gerak kaki. Pola dasar tarian itu ditambah dengan variasi tertentu sehinggga tarian tersebut menarik dan indah.
Tarian berkaitan adat misalnya memasuki rumah baru, pesta perkawinan, acara kematian dan lain-lain.
Terian berkaitan dengan ritus dan religi biasa dipimpin oleh guru. Misalnya Tari mulih-mulih, Tari Tungkat, Erpangir ku lau, Tari baka, Tari begu deleng, Tari Muncang, dan lain-lain.
Tarian berkaitan dengan hiburan digolongkan secara umum. Misalnya Tari Gundala-gundala, Tari Ndikkar dan lain-lain.
Sejak tahun 1960 tari Karo bertambah dengan adanya tari kreasi baru. Misalnya tari lima serangkai yang dipadu dari lima jenis tari yaitu Tari Morah-morah, Tari Perakut, Tari Cipa Jok, Tari Patam-patam Lance dan Tari Kabang Kiung. Setelah itu muncul pula tari Piso Surit, tari Terang Bulan, tari Roti Manis dan tari Tanam Padi.
Kesimpulan :
Sudah banyak muda-mudi Karo tidak memahami arti dari tarian ini. Ada kecendrungan jika adanya gendang guro-guro aron maka tarian modern (tidak beraturan) ditampilkan oleh muda-mudi sekarang. Ini sunnguh memprihatinkan jika kita melihat minimnya pargelaran tari Karo yang disebutkan diatas.
Disamping keempat cabang seni yang disebutkan diatas masih ada cabang seni seperti seni drama, seni lukis dan seni pahat (rupa). Tapi kebanyakan orang Karo tidak mempunyai landasan kuat di cabang seni ini. Misalnya saja seni drama kita bisa menghitung dengan jari berapa seniman Karo yang mendedikasikan hidupnya untuk seni ini. Tak jauh halnya dengan seni lukis dan seni pahat (rupa).
Keberlangsungan kesenian Karo tidak hanya terletak di bahu para senimannya. Tapi juga peran serta masyarakat Karo dalam melestarikan dan menghargainya.
Alangkah baiknya jika kita tumbuhkan rasa memiliki, melestarikan dan menghargai akan perkembangan kesenian Karo. Hingga Kesenian Karo itu tidak pernah mati.
bujur ras Mejuah-juah kita kerina.
Joey Bangun
Jakarta, 21 Sepetember 2005
|