Tanah Karo Online [ Tanahkaro!Foundation ]

Saturday
May 17th
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Berita Terbaru arrow Budaya arrow Tanda - Tanda Kekelengen
Tanda - Tanda Kekelengen PDF Cetak E-mail
Penilaian Pengguna: / 0
BurukTerbaik 
Ditulis Oleh Eddy Surbakti   

Terhadap Orang Tua Yang Telah Lanjut Usia

Setelah mempunyai anak, panjang pula umur seseorang itu, sehingga bila dia meninggal dunia karena usia tua (cawir metua) menjadi satu kebanggaan tersendiri. Kalau hal ini terjadi, maka "lengkaplah" hidup seseorang itu. Terhadap kasus seperti ini, dalam masyarakat karo ada bentuk penghargaan tersendiri. Mereka yang mendapat penghargaan seperti ini biasanya berusia di atas 60 sampai 65 tahun, dan ada pula yang berusia antara 80 hingga 100 tahun.

 Penghargaan ini diberikan sebelum seseorang itu meninggal dunia. Terhadap yang berusia di atas 60 disebut mereken tudung, bulang ras ose (memberikan topi adat dan pakaian adat) dan mereken ciken ras tuktuk (memberikan tongkat dan alat menumbuk daun sirih) serta yang berusia di atas 80, disebut mesur-mesuri (tradisi memberi nasi).

Mereken Tudung, Bulang Ras Ose
Mereken tudung, bulang ras ose ini dapat diartikan memberikan topi adat dan pakaian adat. Biasanya orang tua yang mendapat penghargaan seperti ini adalah orang tua yang berusia di atas 60 tahun sampai 65 tahun yang semua anak-anaknya sudah menikah dan bekerja dengan baik. Acara ini berasal dari keinginan si anak untuk menghormati orang tuanya dengan memberikan memberikan topi adat dan pakaian adat. Ini adalah wujud pelaksanaan kasih sayang kepada orang tua.

Untuk melaksanakan ini dipanggil para anakberu, Senina sembuyak yang berhajat, untuk membicarakan teknis pelaksanaan dan hari pelaksanaan. Nilai topi adat dan pakaian adat yang akan diberikan bergantung kepada kemampuan si anak. Kalau si anak mampu, selain nilai topi adat dan pakaian adat yang mahal, juga pelaksanaan acara dapat mengundang banyak orang. Ketika tiba hari pelaksanaan, tudung disematkan para menantunya di atas
kepala mertuanya yang wanita, sedangkan bulang, disematkan oleh anak lakilakinya di atas kepada ayahnya. Dalam kasus bila salah seorang dari orang tuanya telah meninggal dunia, pemberian ini tidak diberikan. Acara ini ditutup dengan makan bersama oleh para kerabat yang hadir.
 

Mereken Ciken ras Tuktuk
Adat mereken ciken ras tuktuk (memberikan tongkat) ini tidak jauh beda dengan adat mereken tudung, bulang ras ose. Ide pemberian ini juga berasal dari keinginan anak untuk menghormati orang tuanya. Dan orang tua yang mendapat penghargaan seperti ini adalah yang berusia di atas 67 tahun. Kepada si ayah diberikan ciken (tongkat) oleh anaknya yang laki-laki, sedangkan kepada ibunya diberikan tuktuk (alat menumbuk daun sirih) oleh istrinya. Dalam kasus bila salah seorang dari orang tuanya telah meninggal dunia, pemberian ini tidak diberikan. Acara ini juga ditutup dengan makan bersama oleh para kerabat yang hadir.
 

Mesur-mesuri
Penghargaan lain yang diberikan kepada seorang orang tua yang berusia diatas 80 tahun adalah mesur-mesuri. Mesur-mesuri adalah tradisi memberi nasi kepada seorang tua yang sudah berusia di atas 80 tahun. Biasanya pada usia ini, sudah banyak yang meninggal dunia, tetapi karena berusia panjang, ini dianggap sebagai prestasi tersendiri. Karena prestasi ini maka diberikanlah kepadanya penghormatan dan penghargaan yang disebut mesur-mesuri.

Mesur-mesuri biasanya diberikan pertama oleh pihak anak-anaknya, kemudian disusul oleh pihak anakberunya, dan trakhir oleh pihak kalimbubunya. Acara ini juga ditutup dengan makan bersama oleh para kerabat yang hadir. Selesai makan bersama kemudian dilanjutkan dengan berbincang-bincang mengenai isi hati masing-masing dari para kerabat yang hadir. Bila waktu mengijinkan kepada kerabat yang hadir diwajibkan berbicara sepatah atau dua patah kata saja mengenai isi hatinya. Trakhir sebelum para kerabat pulang ke rumah masing-masing, mereka memberikan uang ala kadarnya kepada si orang tua yang dihargai tersebut. Pemberian uang ini sebagai tanda kasih sayang dan dapat dipergunakan untuk membeli keperluan hidup yang diperlukan oleh si orang tua.

mate Cawir Metua (Meninggal Dunia di Usia Lanjut)
Dalam masyarakat Karo, meninggal dunia di usia lanjut dan semua anaknya telah menikah, juga dihargai sebagai prestasi tersendiri yang disebut dengan cawir metua. Kriteria mate cawir metua ini adalah bila semua anak-anak kandungnya sudah menikah.

Bila ada seseorang meninggal karena cawir metua, maka semua kerabat dari pihak kalimbubunya (pihak mertua dari istri anak-anaknya yang laki-laki) harus menyediakan ose yaitu menyediakan perhiasan emas, kain serta daster yang indah-indah (kain adat), untuk dikenakan oleh saudara laki-laki serta anak laki-laki beserta istri serta janda almarhum (kalau yang meninggal dunia laki-laki). Perhiasan dan pakaian yang indah ini, sebagai suatu tanda kehormatan dari pihak kalimbubunya kepada yang meninggal (almarhum).

Perbedaan dengan jenis kematian yang lain, kematian cawir metua ini tidak ditangisi, para kaum kerabat tidak menunjukkan kesedihan, malah sebaliknya bersuka ria, sebab mereka telah puas memberikan kasih sayangnya selama almarhum masih hidup. Kematian seperti ini, dianggap mulia dan sangat dihargai. Acara pemakamannya disebut dengan istilah nurun disertai dengan gendang (tari dan nyanyi), dan para kaum kerabat larut menari bersama.
 

Menikahi Impal
Kepada mereka yang mengambil calon istrinya berasal dari anak pamannya (impal), juga dihargai dengan baik. Kalau dahulukala, kepada mereka diberikan sebidang tanah oleh orang tua pria sebagai tempatnya berusaha, sedangkan kepada (menantu) wanitanya diberikan cenderamata khusus, misalnya pakaian pengantin, atau kalung emas, atau cincin, sebagai kesediaannya mau menikah dengan putranya (impalnya). Kepada anak wanita yang menikah seperti ini disebut singumban. Iming-iming seperti bertujuan positip yaitu agar hubungan kekerabatan tetap berjalan terus, dan harta yang dimiliki tetap dikuasi oleh kaum kerabat yang secara turun temurun masih mempunyai hubungan darah.

Semua bentuk-bentuk penghargaan di atas, bertujuan untuk mengajak, membimbing para individu Karo agar mau selalu melaksanakan adat istiadatnya, apakah itu untuk menghormati para orang tuanya, mengikuti jejak orang tuanya agar dapat berusia panjang, maupun agar jalinan kekerabatan diantara para kerabat tetap terjalin dengan baik.

Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.22 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
< Sebelumnya   Berikutnya >
Forum Terbaru
Latest Forum Posts
TopicsByCategoryDate
Hotel di KabanjaherobbyJALAN-JALAN09-03-08 08:33
mejuah-juahMA_171_NG[[-MUDA-MUDI KARO-]] Jawa Barat07-10-07 16:52
Re:cari beru karo purba ajadhillo kembarenCARI TEMAN LAMA/SEKOLAH/SEKAMPUNG/PACAR18-09-07 19:00
mo nanya nih.....yuliusFORUM MERGASLIMA15-09-07 10:34
Permintaan Maaf..adminIKATAN MAHASISWA KARO/IMKA08-09-07 07:08
Advertisement