Tanah Karo Online [ Tanahkaro!Foundation ]

Saturday
May 17th
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Berita Terbaru arrow Film/Sinema arrow Missing, realita dalam penglihatan supranatural
Missing, realita dalam penglihatan supranatural PDF Cetak E-mail
Penilaian Pengguna: / 0
BurukTerbaik 
Ditulis Oleh Joey Bangun   
Missing, realita dalam penglihatan supranatural Oleh Joey Bangun Bagaimanakah jika kita mempunyai indera keenam untuk melihat dunia lain (dunia supranatural)? Tentu kita akan mengalami hal yang nyaris sama seperti Maya (diperankan oleh Enditha). Missing, sebuah film bertemakan horor arahan Chiska Doppert ini mengusung gaya baru dalam perfilman Indonesia. Baik dari segi kualitas gambar dan ide cerita. Bagaimana seorang Maya, tokoh utama dalam film ini mempunyai indera keenam untuk berhubungan dengan arwah orang yang sudah mati. Di sisi lain polemik rumah tangga Maya dengan Steven (Restu Sinaga) yang mempermasalahkan kehidupan Maya yang membosankan dan keinginannya untuk bekerja di sebuah kafe. Puncak dari polemik di film ini adalah ketika Vega (Essa Elok Pujilestari) bermain petak umpet bersama teman-temannya hingga masuk ke bagasi mobil Steven di saat Steven sedang memotret di hutan. Secara kebetulan Galang (Achul Wiraperwata), seorang polisi meminta Maya untuk menemukan Vega dengan memberikan sebuah bando milik Vega. Awalnya tidak terjadi apa-apa. Tapi ketika di rumah Maya merasakan kehadiran Vega begitu dekat. Akhirnya dia menemukan Vega berada di bagasi mobil Steven. Kekalang-kabutan Maya dan Steven ketika menyembunyikan Vega mewarnai cerita. Apalagi ditambah kemunculan Dian (Inong), sahabat Maya yang datang ke rumah mereka. Kecurigaan Dian mulai muncul ketika dia mendengar suara seorang anak-anak di rumah Maya. Akhirnya Steven melakukan tindakan membabi buta yang berakhir dengan kematian Vega. Kesimpulan dalam film ini terlihat ketika Vega berubah menjadi hantu yang selalu menganggu pasangan Maya dan Steven. Secara sinematografi film ini cukup memuaskan. Ketika warna muram menjadi bumbu dalam penataan set artistik dan lighting. Begitu juga angel kamera yang begitu kreatif ketika Steven melakukan adegan pemotretan di hutan. Seperti film horor Indonesia pada umumnya, kesan horor dibangun dari permainan musik dan wajah-wajah menyeramkan yang identik dengan wanita berambut panjang dan bergaun putih panjang. Tapi sayangnya terkadang pemunculan wajah-wajah menyeramkan itu tidak dibangun pada penempatan titik emosi penonton. Sehingga terkadang justru tidak menyeramkan sama sekali. Kesalahan fatal juga terjadi dua kali ketika Maya mengalami hal-hal yang menakutkan. Penonton yang sudah sangat teryakinkan terbawa pada ketakutan Maya akhirnya harus kecewa pada keadaan dimana Maya hanya bermimpi. Seolah ini ulangan dari gejala-gejala film Indonesia pada umumnya. Logika semakin tidak berkembang ketika penonton diperhadapkan oleh realita dimana Vega yang terkurung di bagasi selama dua hari kemudian bisa muncul dan bergerak merayap bagaikan suster ngesot di depan pintu. Juga ketika Vega yang pingsan di kamar bisa tiba-tiba muncul di tangga dalam keadaan berdiri tidak bergerak. Seolah suasana ini dibangun untuk menunjukkan Vega seperti sosok hantu yang menyeramkan. Padahal saat itu dia belum mati dan hanya seorang anak kecil yang tidak perlu ditakutkan. Penonton dihadapkan pada kenyataan aneh dimana Steven dan Maya berpaku pada ketakutan dengan ditemukannya Vega dalam bagasi mobil. Secara realita ketakutan mungkin menjadi bumbu psikologis tapi jalan keluar bagaimana menyelamatkan Vega merupakan kesimpulan penting yang harus segera dibuat. Membawa Vega ke rumah sakit misalnya. Tapi penonton seolah harus menerima kenyataan pada akibat perbuatan Maya dan Steven. Hingga saat Maya diinterogasi dimana arwah Vega kemudian merasukinya. Tiba-tiba saja Maya bak Superman terbang ke langit-langit. Sayang sekali film ini dibangun dengan genre action yang harusnya tidak perlu. Permainan kelap-kelip lampu terlalu berlebihan ketika hujan kemudian mengakibatkan listrik di rumah Maya dan Steven mengalami koslet. Sewaktu mereka menemukan Vega sudah dalam keadaan tidak bernyawa, permainan lampu kelap-kelip terus mendominasi. Padahal kalau dihitung lama waktu mereka menemukan Vega tidak mungkin lampu akan terus hidup dalam keadaan koslet. Akting monolog Marcella Zalianty sedikit menghibur di awal cerita. Sungguh mengingatkan kita akan sebuah drama monolog panggung teater. Permainan kata-kata yang dirancang pada skenario juga cukup memukau dan sangat mengandung filosofi yang mendalam. Secara garis besar Missing telah membawa kita pada kenyataan akan indera keenam untuk berhubungan dengan arwah orang yang sudah mati. Secara realita kenyataan ini tentu ada dimiliki oleh orang-orang di sekitar kita. Tapi bagaimana akibatnya? Missing adalah jawabnya.
Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.22 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
< Sebelumnya   Berikutnya >
Forum Terbaru
Latest Forum Posts
TopicsByCategoryDate
Hotel di KabanjaherobbyJALAN-JALAN09-03-08 08:33
mejuah-juahMA_171_NG[[-MUDA-MUDI KARO-]] Jawa Barat07-10-07 16:52
Re:cari beru karo purba ajadhillo kembarenCARI TEMAN LAMA/SEKOLAH/SEKAMPUNG/PACAR18-09-07 19:00
mo nanya nih.....yuliusFORUM MERGASLIMA15-09-07 10:34
Permintaan Maaf..adminIKATAN MAHASISWA KARO/IMKA08-09-07 07:08
Advertisement