Tanah Karo Online [ Tanahkaro!Foundation ]

Monday
May 12th
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Berita Terbaru arrow Artis/Seniman Karo arrow Artis/Seniman Karo arrow Komitmen Melestarikan Budaya Daerah
Komitmen Melestarikan Budaya Daerah PDF Cetak E-mail
Penilaian Pengguna: / 0
BurukTerbaik 
Ditulis Oleh -   
Image

Hendry Bangun, usianya 51 tahun. Tekadnya begitu besar untuk memajukan kebudayaan dan kesenian daerah. Meskipun menghadapi banyak kendala, Hendry konsisten mengembang- kan kesenian daerah dan berkreasi. Tidak hanya di kalangan masyarakat, khususnya pemerintah kabupaten (Pemkab) karo, ayah dari empat orang anak masing -masing, Lettu (P) Karyadi Bangun, Eviany beru Bangun SE, Sastroy Bangun SSos dan Revika Denny Bangun SP, ini dianggap tidak asing lagi. Selain sebagai tokoh masyarakat, dia juga tokoh adat dan budaya Karo, pencipta lagu, sutradara film maupun drama Karo.

Pria sederhana suami dari Asmaria beru Ginting ini bernama lengkap Pt Drs Hendry Bangun. Kesehariannya selalu berada di tengah masyarakat. Hendry juga salah seorang staf di bagian informasi dan komunikasi Pemkab Kabupaten Tanah Karo, Sumatera Utara. Dia tak segan berbicara menyangkut apa saja, terlebih yang berkaitan dengan jabatannya sebagai Ketua Organisasi Seniman Karo Indonesia (OSEKARI).

Hendry Bangun dikenal banyak orang karena tidak sedikit menciptakan lagu. Hitung punya hitung, jumlah lagu Karo yang diciptakannya mencapai 400 lagu. Di antara lagu ciptaan yang pernah melejit yakni, Sarudung Erdoah - Doah, mate ras Mate, tawar bangger, Layam - Layam Sitakendoli, Perpeltep ketang, Icel - Icel, Bangger ACC, ula Bangger - Bangger, dan Siersalah Tetap Ersalah (Sekali Bersalah Tetap Berrsalah).

Kaset dan CD dari lagu ciptaannya itu banyak beredar dan terjual di masyarakat. Namun suami dari Asmaria beru Ginting (48) ini tidak pernah menikmati hasil lagu ciptaannya tersebut. "Segala sesuatunya telah diatur oleh mereka yang banyak uang. Mereka pengusaha hanya memberikan sedikit, meski hasil penjualan di pasaran lumayan besar. Bukan hanya saya yang mengalami, banyak pencipta lagu yang merasakan demikian," ujar ketika di- temui di rumahnya di Ke- camatan Kabanjahe, Kabupaten Tanah Karo, Sumatera Utara (Sumut), baru-baru ini.

"Faktor kemiskinan membuat sebagian di antara masyarakat tidak mau menuntut. Persoalannya, untuk melakukan tuntutan memerlukan biaya yang tidak sedikit. Untuk makan saja susah, konon lagi mau menggugat," katanya. Begitu juga dengan sinetron yang pernah digarapnya, antara lain: Gana - Gana Sarung Gitgit, dan Beru Rengga Kuning. Ada juga drama yang pernah melejit yakni Mate Ras Mate. Sinetron dan drama tersebut pernah ditayangkan di TVRI. Saat ini, Hendry Bangun sedang mencari ide untuk engangkat adat dan budaya Karo.

Pakar Hukum Dunia

Apa yang telah dikerjakan Hendry Bangun sempat mengundang ketertarikan oleh pakar hukum dan pemerhati seni budaya etnik dunia, Prof DR Peter Jaszi dari American University, Jane Anderson dari Australia, Loraine Aragon dari North Carolina University USA, dan James Leech dari Cambridge University, Inggris. Mereka datang menemui Hendry Bangun didampingi musikus dunia Rizaldi Siagian MA, awal Januari 2007 lalu.

Selain Rizaldi Siagian, tim yang mendampingi, Merdi Sihombing, Dr Agus Sardjono, Ignatius Arianto, Hirica Panjaitan. Peter Jaszi, Jane Anderson, Loraine, james Leech, tidak terkecuali Rizaldi Siagian sempat terkesima saat mendengar "atraksi" musik yang dimainkan oleh kelompok musik Karo. Bunyi alat musik tiup, dipadukan dengan kibor, serunai, gendang dan alat musik lainnya.

Henry bangun didampingi pemusik dan pencipta lagu Karo lainnya yakni, Jasa Tarigan, Mail Bangun, Dekeng sembiring. Kedatangan musikus dan pemergati budaya ini untuk melakukan penelitian atas musik budaya maupun adat istiadat Karo. Peter Jaszi sempat mempertanyakan perkembangan musik budaya di sana, mengingat perkembangan zaman saat ini.

Sampai saat ini, kondisi musik budaya di daerah ini sudah mulai sedikit bergeser dari menggunakan alat -alat tradisional menjadi modern. Musik di Karo masih dapat bertahan setelah adanya perpaduan antara kibor dengan musik alat tradisional.

"Keadaan ini tidak dapat dipungkiri lagi. Hal yang dapat dilakukan hanya mencoba untuk bisa mempertahankan musik budaya," tuturnya.

Pergeseran itu mulai terlihat dari antara satu desa dengan desa lainnya, setiap kali melaksanakan pesta maupun acara musik di sana, alat musik yang digunakan selalu berbeda -beda. Alhasil ketika dipadukan, antara satu dengan yang lainnya mulai kebingungan.

"Perbedaan itu membuat musik budaya di daerah ini mulai bergeser. Persoalan ini tidak dapat dipung- kiri lagi," tambah Jasa Tarigan.

Kendati demikian, musik budaya Karo masih boleh dikatakan memiliki nilai yang sangat tinggi. Soalnya, lagu maupun ciptaan budayawan di sana, banyak menguntungkan pihak perusahaan. Sayangnya, pemegang hak cipta tidak mendapatkan hasilnya. Mereka hanya diberikan uang sekedarnya. Para pencipta lagu di sana tidak dapat berbuat banyak selain menerima uang terima kasih dari perusahaan.

"Bila kami memaksakan kehendak, perusahaan rekaman yang ada malah berbalik menyerang, mengancam mempromosikan pencipta lagu lain. Daripada tidak menerima uang sama sekali, mau atau tidak terpaksa diterima. Tidak ada royalti maupun hak cipta, sepertinya industri rekaman tidak menghargai hasil karya kami semua. Banyak pencipta lagu Karo di daerah ini," papar Hendry.

Peter Jaszi agak terkejut saat mendengar pengakuan budayawan itu. Menurut dia, hal itu terjadi karena aturan perundang-undangan atas hak cipta di Indonesia masih lemah. Di negaranya, hasil karya seseorang apalagi menyangkut ciptaan masuk dalam industri musik, dipastikan mendapatkan penghargaan Setidaknya, tidak ada intervensi maupun tekanan dari industri rekaman.

"Untuk menghindari kejadian tersebut agar tidak terulang kembali, sebaiknya pencipta lagu maupun budayawan di sini bersatu untuk membentuk organisasi seni yang mempunyai badan hukum. Semuanya itu dapat dilakukan agar industri rekaman tidak semena-mena dan demi melestarikan budaya di daerah itu. Setidaknya, budayawan di daerah ini tidak mudah lagi dibodohi," kata Peter Jaszi, ketika menemui budaya-wan di Karo. [Pembaruan/ Arnold H Sianturi]

Sumber berita ini dari: SUARA PEMBARUAN DAILY
baca di web site: www.suarapembaharuan.com (2/3 2007) di halaman personalitas

Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.22 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
< Sebelumnya
Forum Terbaru
Latest Forum Posts
TopicsByCategoryDate
Hotel di KabanjaherobbyJALAN-JALAN09-03-08 08:33
mejuah-juahMA_171_NG[[-MUDA-MUDI KARO-]] Jawa Barat07-10-07 16:52
Re:cari beru karo purba ajadhillo kembarenCARI TEMAN LAMA/SEKOLAH/SEKAMPUNG/PACAR18-09-07 19:00
mo nanya nih.....yuliusFORUM MERGASLIMA15-09-07 10:34
Permintaan Maaf..adminIKATAN MAHASISWA KARO/IMKA08-09-07 07:08
Advertisement