Artis/Seniman Karo
Artis/Seniman Karo
Komitmen Melestarikan Budaya Daerah | Komitmen Melestarikan Budaya Daerah |
|
|
|
| Ditulis Oleh - | |||||||
![]() Hendry Bangun, usianya 51 tahun. Tekadnya begitu Pria sederhana suami dari Asmaria beru Ginting ini bernama lengkap Pt Drs Hendry Bangun. Kesehariannya selalu berada di tengah masyarakat. Hendry juga salah seorang staf di bagian informasi dan komunikasi Pemkab Kabupaten Tanah Karo, Sumatera Utara. Dia tak segan berbicara menyangkut apa saja, terlebih yang berkaitan dengan jabatannya sebagai Ketua Organisasi Seniman Karo Indonesia (OSEKARI). Hendry Bangun dikenal banyak orang karena tidak sedikit
menciptakan lagu. Hitung punya hitung, jumlah lagu Karo yang diciptakannya
mencapai 400 lagu. Di antara lagu ciptaan yang pernah melejit yakni, Sarudung
Erdoah - Doah, Kaset dan CD dari lagu ciptaannya itu banyak beredar dan terjual di masyarakat. Namun suami dari Asmaria beru Ginting (48) ini tidak pernah menikmati hasil lagu ciptaannya tersebut. "Segala sesuatunya telah diatur oleh mereka yang banyak uang. Mereka pengusaha hanya memberikan sedikit, meski hasil penjualan di pasaran lumayan besar. Bukan hanya saya yang mengalami, banyak pencipta lagu yang merasakan demikian," ujar ketika di- temui di rumahnya di Ke- camatan Kabanjahe, Kabupaten Tanah Karo, Sumatera Utara (Sumut), baru-baru ini. "Faktor kemiskinan membuat sebagian di antara masyarakat tidak mau menuntut. Persoalannya, untuk melakukan tuntutan memerlukan biaya yang tidak sedikit. Untuk makan saja susah, konon lagi mau menggugat," katanya. Begitu juga dengan sinetron yang pernah digarapnya, antara lain: Gana - Gana Sarung Gitgit, dan Beru Rengga Kuning. Ada juga drama yang pernah melejit yakni Mate Ras Mate. Sinetron dan drama tersebut pernah ditayangkan di TVRI. Saat ini, Hendry Bangun sedang mencari ide untuk engangkat adat dan budaya Karo. Pakar Hukum Dunia Apa yang telah dikerjakan Hendry Bangun sempat mengundang
ketertarikan oleh pakar hukum dan pemerhati seni budaya etnik dunia, Prof DR
Peter Jaszi dari American University, Jane Anderson dari Australia, Loraine
Aragon dari North Carolina University USA, dan James Leech dari Cambridge
University, Inggris. Mereka datang menemui Hendry Bangun didampingi musikus
dunia Rizaldi Siagian MA, awal Januari 2007 Selain Rizaldi Siagian, tim yang mendampingi, Merdi Sihombing, Dr Agus Sardjono, Ignatius Arianto, Hirica Panjaitan. Peter Jaszi, Jane Anderson, Loraine, james Leech, tidak terkecuali Rizaldi Siagian sempat terkesima saat mendengar "atraksi" musik yang dimainkan oleh kelompok musik Karo. Bunyi alat musik tiup, dipadukan dengan kibor, serunai, gendang dan alat musik lainnya. Henry bangun didampingi pemusik dan pencipta lagu Karo
lainnya yakni, Jasa Tarigan, Mail Bangun, Dekeng Sampai saat ini, kondisi musik budaya di daerah ini sudah mulai sedikit bergeser dari menggunakan alat -alat tradisional menjadi modern. Musik di Karo masih dapat bertahan setelah adanya perpaduan antara kibor dengan musik alat tradisional. "Keadaan ini tidak dapat dipungkiri lagi. Hal yang dapat dilakukan hanya mencoba untuk bisa mempertahankan musik budaya," tuturnya. Pergeseran itu mulai terlihat dari antara satu desa dengan desa lainnya, setiap kali melaksanakan pesta maupun acara musik di sana, alat musik yang digunakan selalu berbeda -beda. Alhasil ketika dipadukan, antara satu dengan yang lainnya mulai kebingungan. "Perbedaan itu membuat musik budaya di daerah ini mulai bergeser. Persoalan ini tidak dapat dipung- kiri lagi," tambah Jasa Tarigan. Kendati demikian, musik budaya Karo masih boleh dikatakan memiliki nilai yang sangat tinggi. Soalnya, lagu maupun ciptaan budayawan di sana, banyak menguntungkan pihak perusahaan. Sayangnya, pemegang hak cipta tidak mendapatkan hasilnya. Mereka hanya diberikan uang sekedarnya. Para pencipta lagu di sana tidak dapat berbuat banyak selain menerima uang terima kasih dari perusahaan. "Bila kami memaksakan kehendak, perusahaan rekaman yang ada malah berbalik menyerang, mengancam mempromosikan pencipta lagu lain. Daripada tidak menerima uang sama sekali, mau atau tidak terpaksa diterima. Tidak ada royalti maupun hak cipta, sepertinya industri rekaman tidak menghargai hasil karya kami semua. Banyak pencipta lagu Karo di daerah ini," papar Hendry. Peter Jaszi "Untuk menghindari kejadian tersebut agar tidak terulang
kembali, sebaiknya pencipta lagu maupun budayawan di sini bersatu untuk
membentuk organisasi seni yang mempunyai badan hukum. Semuanya itu dapat
dilakukan agar industri rekaman tidak semena-mena dan demi melestarikan budaya
di daerah itu. Setidaknya, budayawan di daerah ini tidak mudah lagi dibodohi,"
kata Peter Jaszi, ketika menemui budaya-wan di Karo. [Pembaruan/ Arnold H
Sianturi]
Powered by !JoomlaComment 3.22
3.22 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
|||||||
| < Sebelumnya |
|---|
| Profil |
| Tokoh Karo |
| Tokoh Dunia |
| Tokoh Nasional |
| Opini |
| H M K I |
| Wikipedia |
| Sora Mido |
| Sora Sirulo |
| Joey Bangun |
| Tari Karo |
| Lagu Karo |
| Film/Sinema |
| Artis/Seniman Karo |
| Berita |