Sejarah
Melihat Rumah Pengasingan Bung Karno Di Berastagi | Melihat Rumah Pengasingan Bung Karno Di Berastagi |
|
|
|
| Ditulis Oleh Alexander Firdaust | |||||||
![]() Tidak banyak yang tahu kalau Bung Karno, tokoh proklamator RI pernah diasingkan Belanda ke Berastagi, tepatnya di Dusun Rumah pengasingannya terletak sekitar 2 km dari kota wisata Berastagi atau sekitar 60 km dari ibukota provinsi Sumatera Utara, Medan, ditempatkan pada posisi lereng perbukitan dengan hamparan perladangan sayuran dan tanaman palawija yang hijau. Tidak ada kesan lain yang muncul di hati kecuali perasaan kedamaian di saat memasuki gerbang rumah pengasingan Bung Karno. Begitu pula saat berjalan menuju hamparan rumput yang sangat tertata rapi. Namun di saat memasuki pelataran halaman utama, jantung berdecak kagum melihat sosok patung sang proklamator yang duduk sambil menyilakan kaki, dengan kepala menghadap ke ![]() Rumah bersejarah yang ditaksir dibangun sekitar tahun 1800 namun nampak masih tetap utuh meski sudah pernah berubah fungsi menjadi mess Pemerintah Provinsi Sumatera Utara ini, dengan ciri khas bangunan Belanda yang tetap dipertahankan. Meskipun ciri khas dan bentuk rumah masih dapat dipertahankan, namun renovasi bahagian kamar pernah dilakukan pada 1957. Renovasi saat ini terutama pada kamar yang sebelumnya hanya dua ditambah menjadi Begitu pula lemari pakaian dan gantungan baju milik Bung Karno masih tetap terjaga, bahkan letaknya masih sama di saat sang proklamator menempati kamar tersebut. Letak kamar Bung Karno saat diasingkan berada pada bahagian belakang bangunan, bersebelahan langsung dengan ruang makan. Ruang makan masih tertata rapi dengan dua meja dan kursi. Pada bahagian dinding ruang terpampang dua lukisan hasil goresan tangan Jan Suluters, menggambarkan kehidupan petani di Eropah. Satu lukisan lagi tepat di atas pintu masuk ke kamar tidur Bung Karno, juga masih terpasang lukisan Bunga hasil karya seniman Belanda, Ivan Vrialand. Pada ruang tamu terpampang foto Bung Karno, Sutan Syahrir dan Agus Salim saat diasingkan di rumah ini. Sedangkan sisi kiri rumah terdapat dua patung bunga yang sering disebut masyarakat dengan 'bunga Karno' dengan salah satu pesan perjuangannya 'Tak usah 100, tak perlu seribu, beri ![]() Menurut Sinaga, Bung Karno diasingkan ke Berastagi 22 Desember 1948, bersama Sutan Syahrir dan Agus Salim. Menurut sejarah, ketiga tokoh nasional ini diasingkan 12 hari dan setelah dua pekan, ketiga petinggi negara di era perjuangan ini pun diasingkan lagi ke kawasan Parapat 3 hari. Masih menurut Sinaga, dia bisa tinggal di rumah itu karena ayahnya J. Sinaga sejak tahun 1917, merupakan koki masak di rumah Belanda. Setelah kedua orangtuanya meninggal dia pun dipercaya melanjutkan merawat rumah bersejarah itu. Cerita tentang rumah pengasingan Bung Karno ini diakui sejumlah penduduk yang tinggal di Dusun Lau Gumba. Penduduk meyakini rumah pengasingan ini selain memiliki nilai sejarah, juga menjadi sumber inspirasi bagi Bung Karno dalam melanjutkan perjuangan. Bagi sebahagian pelajar tingkat SLTA di kota wisata Berastagi, lokasi pengasingan Soekarno ini sering dijadikan sebagai tempat penelitian sejarah. Para guru SLTA Berastagi sering mengarahkan dan membimbing para siswa siswi untuk melihat dari dekat rumah yang menjadi saksi bisu kehadiran sang 'Proklamator' di Berastagi. Namun terkadang muncul kendala karena data maupun buku dimiliki di lokasi pengasingan ini terlalu minim, sehingga terasa kurang akurat kalau hanya mendengar cerita dari mulut ke mulut. Kata Sri Br Siswi itu mengungkapkan, ada dua pendapat diterimanya saat melakukan penelitian terhadap pelayan Bung Karno. Satu pihak mengatakan, pelayan Soekarno saat itu seorang suku Jawa yang juga bernama Karno, satu lagi mengatakan bermarga Sinaga. Munculnya nama kedua tokoh pelayan Soekarno semasa di pengasingan di Berastagi, menimbulkan pertanyaan Apa yang diutarakan siswa SLTA itu dimaklumi tokoh PDIP Bon Purba, yang juga mantan ketua DPRD Karo. Dia membenarkan, di lokasi rumah pengasingan Bung Karno sebaiknya ditempatkan beberapa buku karya Soekarno, agar para siswa bisa membaca dan mengetahui secara jelas, sosok tokoh pendiri Republik Indonesia ini.Menurutnya, masukan yang diterima ini akan dijadikan 'buah tangan' kepada pengurus yayasan Bung Karno di Medan maupun Jakarta, untuk bisa menjadi perhatian. Karena apa pun ceritanya, rumah yang terletak di kaki bukit Desa Lau Gumba ini pernah menjadi tempat pengasingan Bung Karno. (Dickson Pelawi) Sumber : Waspada Online 07 Mar 07
Powered by !JoomlaComment 3.22
3.22 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
|||||||
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
| Profil |
| Tokoh Karo |
| Tokoh Dunia |
| Tokoh Nasional |
| Opini |
| H M K I |
| Wikipedia |
| Sora Mido |
| Sora Sirulo |
| Joey Bangun |
| Tari Karo |
| Lagu Karo |
| Film/Sinema |
| Artis/Seniman Karo |
| Berita |