 Mata air panas lau Debuk-debuk di Desa Daulu (Kab. karo)
cukup dikenal oleh orang-orang Karo sebagai sebuah daerah wisata yang unik. Di
sana ada beberapa mata air panas yang mengalirkan air bercampur belerang ke
sebuah kolam atau tepatnya danau kecil. Orang-orang bisa mandi air panas di
sana.
Sebagian besar orang Karo pernah mendengar Lau Debuk-debuk sebagai tempat
keramat. Konon, di sana menetap kedua putri Guru Penawar yang mati terserang
cacar (reme). Sebagian orang menyebut mereka beru Karo sada Nioga, sebagian lain
menyebutnya Tandang Riah Tandang Suasa. Meskipun ayah mereka (Guru Penawar)
memiliki serbuk (pupuk) yang dapat menghidupkan kembali orang mati, Beru Kertah
Ernala (Keramat Gunung Sibayak) keburu mencuri tulang-belulang mereka sebelum
Guru Penawar tiba dari Taneh Alas. Begitulah awalnya, menurut cerita itu, Lau
Debuk-debuk menjadi tempat pemandian kedua putri Guru Penawar yang, sebenarnya,
bermerga Perangin- angin Kacinambun.
Namun, agaknya tak begitu banyak yang tahu bahwa setiap hari Cukera Dudu
(disebut juga Cukera ku Lau) selalu ada yang mengadakan upacara erpangir di Lau
Debuk-debuk. Cukera Dudu adalah nama hari ke-13 setiap bulannya dalam kalender
Karo yang sebulannya terdiri dari 30 hari.
Cukera Dudu Desember 2005
Untuk Desember 2005, Cukera Dudu jatuh pada hari Rabu tanggal 14. Mengunjungi
Lau Debuk-debuk pada 14 Desember 2005 yl. ternyata memberi kesan berbeda
terhadap Lau Debuk-debuk yang kita kenal di hari Minggu, saat banyak wisatawan
dari Medan mandi di sana. Tak ada wisatawan kecuali beberapa keluarga yang
sengaja datang ke sana untuk melakasanakan upacara erpangir ku lau.
Ada 4 mata air panas di luar kolam utama: 1. Telaga Beru Karo Sada Nioga,
2. Telaga Beru sembiring, 3. Telaga Panglima dan 4. Telaga Guru Penawar.
Setiap mata air sudah dipugar atas swadaya dari pengunjung yang merasa mendapat
berkah dari Nini keramat mata air tersebut. Keluarga yang hendak erpangir
terlebih dahulu mengadakan Ercibal dan erlebuh di salah satu mata air ini.
Orang-orang yang erpangir biasanya datang dalam rombongan yang terdiri dari
anggota keluarga. Ada yang datang karena memang disarankan oleh guru (dukun
Karo) atau datang erpangir karena kebutuhan rutin dirinya sendiri. Para guru
perjinujung, misalnya, paling tidak setahun sekali harus mengadakan erpangir ku
lau.
Kelompok yang datang ke sana berasal dari mana saja. Pada Rabu 14 Desember 2005
itu, ada yang datang dari Binjai, Bahorok dan Karo Gugung. Tak jarang mereka
berangkat jam 2 Pagi dari kampung agar bisa tiba pagi-pagi sekali. Bahkan sehari
sebelum Cukera Dudu tiba, mereka sudah sibuk mempersiapkan sesajen, memasak
bekal dan membeli kebutuhan erpangir.
Urutan Acara
Sebelum erpangir dimulai, biasanya di pinggir telaga disusun berbagai macam
sesajen. Bermacam penganan ada di sini, seperti pisang, cimpa, jeruk, buah pir,
apel dan banyak lagi disajikan dengan rapi dan biasanya dialasi dengan tikar
atau uis dagangen. Ada dua hal yang tidak pernah ketinggalan, yaitu daun sirih
dan rokok yang dijepit di ranting kayu yang dipacakkan.
Maka mulailah dipanggil (erlebuh) Nini yang ingin ditemui. Seperti yang
dilakukan oleh rombongan orangtua Novita Sari br Sebayang, penyanyi cantik yang
namanya mengorbit akhir-akhir ini di blantika musik pop Karo. Keluarga Sebayang
ini tidak pernah melewatkan Cukera Dudu untuk erpangir di Lau Debuk-debuk.
"Seingatku, sejak kecil kami sudah dibawa ke sini."
Guru yang memanggil Nini biasanya dibawa oleh keluarga yang erpangir. Kebetulan
Novita tidak perlu memanggil guru, karena ibunya sendiri TL beru Surbakti adalah
guru. Ibu Novita adalah ketua Sada Perarih, Perkumpulan Guru Perjinujung deleng
Sibayak di Medan. Perkumpulan ini tampaknya mirip dengan Arisan Perjenujung
Simpang Kuala Medan yang menjadi terkenal di dunia antropologi karena
Prof. Dr. Mary Steedly dari Universitas Harvard membahasnya secara serius dalam
bukunya yang berjudul Hanging Without A Rope.
Nini menghibur yang berkeluh kesah dan memberikan ramuan obat. Kadang Nini
menjernihkan yang berselisih. Kebijaksanaan ini disampaikannya dengan
bersenandung. Terkadang melalui dialog. Kita temukan beberapa hal yang lucu
tetapi akrab atau kadang terlontar kata yang tidak dimengerti maknanya. Seperti
ketika Nini meramal masa depan perekonomian seorang gadis. "Sabar-sabar
nakku, gundari lenga kin lit senndu, cukup man ras ongkos saja. Pepagin mbue nge
rehna. Ban buena, dahkam, man embahenken pagi ku rumah Galang," ujar Nini
melalui guru. Si gadis terbingung. Orang-orang di sekitarnya menjelaskan bahwa
rumah galang berarti bank. Wah...
Di semua kelompok yang melakukan ritual terdapat suasana seperti itu. Terkadang
Nini mengajak menari atau meminta yang bertanya padanya untuk bernyanyi. Acara
cengkerama ini berlangsung cukup lama.
Acara akan diakhiri dengan erpangir. Nini mangiri seluruh anggota keluarga
dengan ramuan yang sebelumnya sudah didoakannya. Semerbak wangi bunga dan jeruk
memenuhi udara mengalahkan aroma belerang. Siraman pangir di kepala disambut
dengan tawa gembira. Setelah itu biasanya para keluarga pamit pada Nini. Guru
mengangkat tangan tinggi-tinggi dan mata terpejam, sambil kakinya terus menari
mengikuti irama musik kulcapi atau belobat yang diputar lewat tape recorder.
Sampai guru akhirnya kembali normal dan Nini meninggalkan tubuhnya.
Makan siang
Erpangir biasanya selesai menjelang siang. Setiap keluarga membawa bekal
bermacam-macam lauk. Setelah erpangir mereka mandi di kolam Lau Debuk-debuk dan
sesekali naik ke darat untuk makan. Demikian juga halnya guru Beru Surbakti yang
memanggil Nini. Mengganti pakaian dengan basahan, kemudian melepas seluruh
perhiasan emas berlian yang ada di sekujur tubuhnya.
"Mengapa begitu banyak perhiasan dipakai?" tanyaku. " adi la ermaga-maga, la ban
mejile, jungut-jungut Nini ah, la kari ia nggit reh," ungkapnya seraya bersiap
turun mandi ke kolam.
Sumber :
http://pelangiharum.blogspot.com/
|