 Pada mulanya Medan adalah sebuah kampung kecil yang konon
didirikan oleh Guru Patimpus sembiring Pelawi. Dalam laporan perjalanan John
Anderson ke Sumatra Timur di tahun 1823, dia menggambarkan Meidan sebagai sebuah
kampung yang berada di luar wilayah Deli (lihat John Anderson: Mission to the
East Coast of Sumatra in 1823 [terbitan 1971]). Saat itu Deli hanyalah sebuah
wilayah kecil di sekitar Labuhan Deli.
Pada tahun 1862, pedagang tembakau Belanda Jakobus Nieuwenhuis mulai
mengembangkan perkebunan tembakau di Labuhan Deli yang kemudian berkembang ke
wilayah-wilayah lain di luar Deli"kecil" itu. Perkembangan ini terutama sekali
oleh bergabungnya beberapa perusahaan internasional lainnya dari Eropah dan
Amerika untuk mengembangkan perkebunan tembakau di"Deli".
Deli Maschapij mewakili perkebunan-perkebunan asing untuk bernegoisasi dengan
raja-raja setempat khususnya dalam sewa-menyewa tanah untuk perkebunan. Deli
Maschapij menganggap Sultan Deli sebagai pemimpin pribumi tertinggi di wilayah
itu atas pengakuan Sultan Deli sendiri. Nantinya, pemerintah kolonial
mendefenisikan Deli sebagai suatu wilayah kesultanan yang meliputi 4 wilayah
kejuruan Melayu (Denai, Percut, Deli dan Sepulu Dua kuta Hamparan Perak) dan 4
wilayah urung karo (Senembah, Suka Piring, Sepulu Dua Kuta lau Cih dan
Sabernaman).
Tentu saja Deli Maschapij terperanjat ketika orang-orang Karo mengamuk membakar
bangsal-bangsal tembakau sebagai protes karena hanya Sultan Deli yang menerima
sewa tanah. Sedangkan mereka menganggap Sultan Deli tak punya urusan apa-apa di
tanah-tanah orang Karo itu. Perlawanan orang Karo terhadap perkebunan asing ini
dipimpin oleh Datuk Sunggal bermarga Surbakti dari Urung Sabernaman Sunggal.
Sunggal sebagai kampung Karo di wilayah kotamadya Medan sekarang ini telah cukup
banyak diketahui oleh orang-orang Karo, terutama oleh tulisan T. Lukman Sinar,
SH di majalah Prisma beberapa tahun silam serta tulisan-tulisannya yang lain
tentang perjuangan Datuk Sunggal melawan penjajah.
Lain halnya dengan Lau Cih yang menjadi ibukota Urung Sepulu Dua Kuta Lau Cih,
tak begitu banyak dikenal. Ke arah laut, Urung"12 Kuta Lau Cih" berbatasan
dengan"12 Kuta Hamparan Perak" di Sungai Sikambing. Ke arah gunung, dia
berbatasan dengan"12 Kuta Kabanjahe" di Lau Petani, dekat Penatapen Perbinaga
Jong Daulu (jalan Medan-Berastagi), yang nantinya menjadi perbatasan antara
Kabupaten Deli-Serdang dan Kabupaten Karo.
Latar belakang sejarah itu membawa kami tertarik mejeguk sebentar keadaan Lau
Cih sekarang ini.
Jalan Ke Lau Cih
Hujan semalaman bersambung hingga Pagi. Tidak begitu deras tapi butirannya cukup
besar. Dijamin tak sampai 3 menit bakal basah kuyup. Setelah menunggu 30 menit
dari jam 9 pagi, hujan agak reda akupun berangkat menuju Lau Cih, yang katanya
pernah menjadi ibu kota Urung Sepulu Dua Kuta.
Angkot yang kutumpangi kuminta berhenti di sebuah papan nama bertuliskan 'GBKP
Lau Cih'. Sehari sebelumnya aku bertanya pada beberapa supir angkot, untuk
memastikan lokasi Kuta Lau Cih. Jalan berbatu-batu kususuri dengan beragam rumah
gedong di kiri kanan jalan. Sedikitpun tidak kutemui tanda-tanda bahwa 'Lau Cih'
ini adalah sebuah 'kuta'.
Penasaran, aku bertanya kepada seorang bapak tua."Apakah Kuta Lau Cih masih
jauh?" tanyaku." ku ja kin atendu? ise kin daramenndu?" responnya."Kuta Lau Cih
si lit ije geriten Sibayak Lau Cih" kataku."Salah kam e, nakku, enda Lau Cih
simbaru. Arah enda pe Banci tuhu, tapi meluk-eluk dalanna, la kari tehndu. Madin
kam ku Simpang Gardu, melala jah beca," katanya menerangkan."Erkai kin atendu ku
jah?" tanyanya lagi." Nungkun-nungkun saja nge, Pa. Uga nge turi-turinna Kuta Lau
Cih enda, ateku," jelasku.
Akhirnya kami menumpangi angkot yang sama. Aku turun terlebih dahulu. Sebelum
berpisah, dia sempat berpesan."Daramindu kari i jah gelarna Bapa Serianna Purba.
Ia tehna kerina kerna Lau Cih enda," katanya." bujur, Pa," kataku sambil berlalu.
Menumpang becak aku menuju Kuta Lau Cih. Menyusuri jalan becek dan lengket.
Sesekali menahan nafas, ketika ban motor lengket dan tidak berputar. Terlebih
ketika melewati jembatan papan di atas sungai kecil (yang kemudian kuketahui
bernama sungai 'Lau Cih' atau Sungai Siput). Rasanya jembatan itu pas sekali
dengan badan becak. Kami melewati sebuah beko yang disaput tanah merah di tengah
lapangan yang luas. Menurut abang becak, lapangan itu akan dijadikan perumahan
mewah.
Becak melaju. Bertemu pertigaan, kami belok ke kiri persis di bawah pohon rambe.
Aku berhenti di sebuah warung kecil dan menanyakan alamat Bp. Serianna
Purba."Dia tidak di rumah, dia ada di tempat anaknya. Kam sudah lewati tadi,"
katanya. Akhirnya aku berbalik arah menyusuri jalan tadi dan berhenti di sebuah
tempat bermain billiard.
"Mejuah-juah," salamku kepada seorang Anak Perana yang berdiri di
pintu."Mejuah-juah. Ise daramenndu?" balasnya."Bulang Bapa Serianna ndai ateku,
turang.""Oh.. sebelah ena ia," sembari tangannya menunjuk sebuah pintu yang
terbuka."Bujur," jawabku lagi.
Aku berdiri di depan pintu. Di hadapanku duduk bersila seorang kakek berkacamata
dengan rokok di tangan. Seorang nenek datang bertanya:" kai ? ndai?" 'Bulang Bapa
Serianna ndai ateku, Ni," jawabku."Enda jelmana. Mari kurumahken,"
sambutnya."Kai kin ndai atendu?" tanya Bulang itu ramah.
Setelah perkenalan singkat, ternyata beliau adalah 'Sibayak Lau Cih' turunan
ke-3. Di usianya yang ke-79, kesan segar dan semangat masih terpancar dari
matanya. Rupanya usia tidak mengalahkan semangatnya. Bintang Purba Rumah Selat,
demikian dia memperkenalkan dirinya, sambil melinting tembakau di kertas rokok,
pensiunan pegawai negeri. Tak lupa dia memperkenalkan istrinya, dipanggil
'Ribu', beru Perangin- angin Kutabuluh, keturunan Sibayak Kuta Buluh.
Kemudian, 'Sibayak' ini bertanya, apa yang saya cari di Lau Cih."Uga nge sejarah
Lau Cih enda?" balasku bertanya. Renyah dia tertawa.
Sibayak Lau Cih Bertutur
Awalnya terjadi perang saudara di Kabanjahe antara pihak Pa Mbelgah dan pihak Pa
Pelita. Ketika itu suasana semakin memanas, sehingga Radja Djenggi Purba, salah
seorang dari pihak Pa Pelita memilih untuk pindah ke Lau Cih dan tinggal di
sana. Nama Lau Cih ini berasal dari sebuah nama sungai kecil yang kita lewati
jika menuju kampung Lau Cih. Konon di sungai itu dulunya banyak cih (siput)
walau kini nyaris tidak ada lagi siput di situ. ("Barangkali karena banyaknya
pemakaian racun hama," kata Ribu menyeling penuturan suaminya)
Kepindahan Radja Djenggi Purba ke daerah di dekat Medan ini bukan tanpa alasan.
Dekat ke Medan berarti dekat dengan Belanda. Kedekatan ini dimanfaatkan oleh
Sibayak Lau Cih agar Belanda mau membantu pihak Pa Pelita dalam perang saudara
di Kabanjahe. Kalau sekarang, Ni Bulang saya mungkin akan dapat julukan
pengkhianat. Karena dia yang membawa Kumpeni ke Tanah Karo. Karenanya jugalah
ada Pasar hitam (jalan aspal-red) dari Medan hingga Kabanjahe. Hal ini
dilakukannya karena membantu Pa Pelita.
Bukan hanya pihak Pa Pelita yang diuntungkan oleh Belanda, pada dasarnya Belanda
juga membutuhkan akses ke Tanah Karo. Sehingga ketika Belanda sudah mulai
berkuku di Tanah Karo beberapa kerabat dari Radja Djenggi Purba diangkat menjadi
pejabat penting yang turut menentukan kebijaksanaan pemerintahan di Tanah Karo.
Salah satunya adalah Ngasup Purba, yang kemudian diangkat menjadi Jaksa di Tanah
Karo. Sebagai jaksa, Ngasup Purba diberi wewenang untuk menentukan siapa yang
menjadi Sibayak di Tanah Karo. Selain Raja Berempat (Sibayak Lingga, Sibayak
Barusjahe, Sibayak Suka dan Sibayak Sarinembah), kemudian hari Ngasup Purba
mengangkat seorang Sibayak lagi yaitu kalimbubunya sendiri, yang kemudian
dikenal sebagai Sibayak Kuta Buluh.
Demikian juga halnya dengan Radja Djenggi Purba. Kedekatannya dengan Belanda
membawa kemajuan kepada dirinya dan Kuta Lau Cih. Kala itu Lau Cih dikelilingi
perkebunan tembakau. Sibayak Lau Cih juga mendapat bagian dari perkebunan itu,
sehingga anak kuta Lau Cih banyak yang 'erjuma' di Taneh jaluren kebun tembakau.
Sibayak Lau Cih juga bertanggungjawab atas keamanan kebun. Selain dekat dengan
Belanda, Sibayak Lau Cih juga dekat dengan beberapa Sultan Melayu, antara lain
Sultan Serdang, Langkat, Deli dan Siak. Selain itu, Sibayak Lau Cih juga
erkalimbubu ke Sultan Hamparen Perak.
Salah satu yang jelas saya ingat, soal kedekatan Ni Bulang dengan Sultan Siak
adalah soal pedang. Ketika itu ada pedang yang bersarung; pedangnya tinggal di
Lau Cih dan sarungnya pada Sultan Siak. Cuma saya tidak tahu di mana sekarang
pedang itu berada. Saya juga ingat cara duduk Ni Bulang. Dia tidak bisa duduk
bersila, duduknya seperti orang hendak sembahyang (sholat- red). Seperti
orang-orang Melayu itu.
Ketika itu Lau Cih adalah kampung yang hidup perekonomiannya. Sebagai salah satu
jalur utama kereta api jurusan Pancur Batu-Medan, maka setiap kereta yang lewat
diwajibkan untuk berhenti di Lau Cih. Persis seperti stasiun pembantu sekarang.
Penumpang kereta api dapat naik turun di sini. Seperti lazimnya di perkebunan,
judi juga marak di sekitar Lau Cih. Dulunya juga ada sebuah sekolah Belanda di
Lau Cih, seiring dengan waktu sekolah itu runtuh dan sekarang sudah dijadikan
ladang.
Sibayak Lau Cih terkenal murah hati. Menjelang Idul Fitri, banyak orang dari
Gugung menjual lembu dan kerbau ke Medan dan mereka melewati Lau Cih, karena Lau
Cih adalah jalur utama menuju Medan. Terkadang para penjual lembu beristirahat
di sini. Terkadang juga ikut berjudi. Malahan ada yang sampai habis-habisan
hingga tidak punya uang lagi. Kalau sudah begitu, mereka datang ke rumah Ni
Bulang dan minta makan di situ.
Ni Bulang selalu terbuka untuk tamu-tamunya sehingga orang tidak segan minta
tolong. Tidak hanya itu, kadang karena terlalu asyik bermain judi para pedagang
tidak sadar kalau lembu atau kerbaunya sudah nggagat tanaman orang lain dan juga
tanaman kebun. Agar sang pemilik tidak marah, biasanya Sibayak Lau Cih
mengatakan kalau lembu atau kerbau itu adalah miliknya. Karena segan, tentu saja
orang-orang itu tidak jadi marah. Ah... mungkin itu sebabnya Sibayak Lau Cih
tidak ikut igeleh di jaman revolusi dulu.
Dikaruniai dengan 7 orang anak, 6 diantaranya laki-laki, seperti layaknya
Sibayak yang lain, akhirnya Sibayak Lau Cih turun kepada putranya yang pertama,
yaitu Penandan Purba yang dikenal sebagai Sibayak Lau Cih II. Sayang Sekali
Sibayak yang ke dua ini tidak lama memerintah. Akibat candu beliau meninggal
dunia. Bapa Tua kenal candu dari Belanda. Efeknya sama dengan narkoba. Karena
begitu candunya tengkorak kepalanya sampai putih ("Saya ingat ketika kami
merenovasi geriten, tengkorak kepalanya sangat putih," Ribu menimpali). Kemudian
jabatan Sibayak dilanjutkan oleh anaknya, Nageri Purba. Hingga akhirnya, setelah
Indonesia merdeka, perlahan-lahan jabatan Sibayak menghilang.
Menjenguk Kampung Lau Cih
Didampingi salah seorang cucu Sibayak Lau Cih aku kembali ke kampung Lau Cih.
Dengan becak motor, kembali kami susuri jalan lengket dan berair. Persis di
depan geriten kami berhenti. Saya mengambil beberapa foto di depan geriten yang
sudah dibangun dari semen."Geriten ini sudah direnovasi dua kali. Terakhir lima
tahun yang lalu," kata Aris. Giriten lama terbuat dari kayu dan ijuk.
Tak jauh di depan giriten ada sebuah jambur. Di dalamnya banyak anak perempuan
yang sedang bermain lompat tali ditonton beberapa bocah laki.
Dengan berjalan kaki aku meninggalkan Aris menuju pohon rambe di persimpangan
jalan. Simpang Tiga. Dulunya bekas tempat berhenti kereta api dan juga bekas
bangunan sekolah. Tidak terlihat sama sekali kalau dulunya Lau Cih adalah sebuah
kampung yang semarak. Kubuatkan lagi beberapa foto. Berdiri di simpang jalan,
kucoba bayangkan Lau Cih jaman dulu dengan Sibayaknya. Lamunan terputus,
tiba-tiba Aris datang dengan becanya dan minta maaf karena membuatku lama
menunggu. Roda beca tidak mau berputar, kami berdua mengais lumpur merah di roda
beca dengan potongan kayu.
Beca melaju lagi, tapi lamunanku masih tertinggal di Lau Cih. Kampung
tradisional Karo di ketiak metropolitan. Mata pencaharian utama adalah berkebun
pisang dan buah-buahan lainnya. Dibungkus bangunan-bangunan hotel, restauran dan
oukup modern sepanjang jalan Letjen Djamin Gintings. Antara Medan Pancurbatu,
yang kulintasi hampir setiap hari dari rumah ke kampusku.
Sumber :
http://pelangiharum.blogspot.com/
|